Takut itu Manusiawi

By i k k a r f - Maret 29, 2022

 


Dari ayat diatas, saat ini aku sedang mengalami ujian berupa ketakutan. Tidak aku jelaskan secara detil ujiannya apa, mungkin nanti InsyaAllah jika semua sudah “lapang” akan aku bagi ke pembaca. Disini aku akan menceritakan beberapa trauma yang sudah aku taklukkan, dan bagaimana caraku menaklukkan trauma tersebut. Ceki dot!

Trauma ke Dokter Gigi

Aku punya banyak trauma, salah satu ketakutanku hingga dewasa adalah pergi ke dokter gigi. Hal ini terjadi ketika aku masih duduk di sekolah dasar, layaknya anak kecil yang harus berjibaku dengan “gigi susu”-nya akupun demikian. Orang tuaku sangat perfeksionis jika menyangkut kerapihan gigi, terutama ibuku. Gigi ibu bagus, tidak ada kendala apapun berbeda dengan gigi bapak karena ada gigi berlubang.

Segala cara menanggalkan gigi susu-ku bermacam-macam, kadang copot sendiri, pernah juga ditarik dengan benang, sampai-sampai dibawa ke dokter gigi untuk dicabut. Sampai suatu saat kurang lebih saat aku berada di bangku kelas 5 SD, aku jenuh ke dokter gigi. Rasanya baru kemarin bibirku rasanya mati rasa, efek suntikan bius saat cabut gigi eh udah harus ke dokter gigi lagi (dengan dokter yang berbeda-beda).

Aku masih ingat, di malam itu rasa takut dan cemas sudah mulai menjalari tubuhku. Bapak yang menyadari akan ketakutanku mengajakku berkeliling daerah sekitar rumah praktik sang dokter gigi. Sambil menunggu antrean pasien, aku jalan di samping bapak. “Nduk, lihat itu ada anjing lucu ya.” Bapak menunjuk anjing pudel putih yang menjulurkan lidah-nya seolah terlihat mengejek ku. Aku diam tak menjawab, tapi sedikit mengurangi rasa takut ku.

Tibalah antreanku, bapak mengajakku kembali ke rumah dokter dan perasaanku mulai tidak enak lagi. Rasa cemas dan takut ku semakin menjadi-jadi, aku sudah tak tahan lagi. Nangislah aku sekencang-kencangnya, bapak menggendong ku dan membujuk ku “kan sudah besar, kok nangis.” Sang dokter membeo dengan kata-kata yang sama, seolah mengiyakan pernyataan bapak.

Itulah terakhir aku ke dokter gigi, sampai usia 20an tahun tidak ada keluhan sama sekali. Aku berpikir, gigiku ikut gen ibu yang bagus. Syukurlah aku tidak perlu berkunjung ke dokter gigi lagi. Horaiy!

Sampai di tahun itu, tahun kesedihan yang paling mendalam buatku. Tahun baru 2016 aku, suami dan teman kami berencana untuk bakar-bakar jagung dan ikan di rumah kontrakan kami. Saat membeli arang di warung temanku yang berjualan sate, aku makan cemilan. Lalu tiba-tiba, tek! Gigiku copot seperempat, untung tak tertelan. Aku teringat sempat mimpi gigiku copot, tak lama gigiku benar-benar copot. Pertanda apa ini?!

Satu bulan kemudian, bapak yang sudah sakit parah dan bolak-balik kemoterapi dipanggil Allah. Akhirnya aku menyadari sesuatu, ternyata gigiku ikut gen bapak kali ya. Semenjak itu sampai sekarang aku berjumpa kembali dengan dokter gigi, diawal periksa aku hanya bisa menggenggam erat kursi dokter. Kali ini aku sudah benar-benar sudah besar dan dewasa, malu kalau nangis. Terpaksa karena terbiasa, akhirnya lama kelamaan aku sudah tidak takut lagi ke dokter gigi sampai sekarang.

Trauma dengan Jarum Suntik

Ketakutan kedua ku adalah jarum suntik, meskipun aku tenaga medis namun takut jika harus ditusuk jarum. Kalau nyuntik orang lain aku sudah biasa, namun karena takut ditusuk jarum suntik aku selalu melakukan destraksi relaksasi ke pasienku agar tidak takut dan trauma seperti aku. Efeknya? Ada yang bilang suntikanku tidak sakit, ada juga yang masih saja merasa sakit (tiap orang memang beda-beda).

Sama seperti ketakutan ke dokter gigi yang lama-lama hilang karena terpaksa dan terbiasa, akhirnya aku tidak takut lagi. Ceritanya mau nggak mau aku harus melakukan prosedur yang mengharuskan aku ditusuk jarum berulang kali, dan perdana kemarin minggu aku berani diambil darahnya sendirian. Biasanya harus ditemani satu orang untuk jadi pegangan ketika ditusukkan jarum ke nadiku. Sebuah kemajuan yang patut aku rayakan. Good Job! Aku hebat! Terima kasih sudah bertahan, kedepannya jangan lupa regulasi emosi sesaat dan sesudah melakukan sesuatu hal yang traumatik ya wahai diriku sendiri.

Selalu ingat ayat AL-Quran diatas, niatkan untuk ibadah pada Allah. Sadari dan jika tau ilmunya mengapa harus melakukan hal tersebut maka otomatis kita akan ikhlas dan sabar dalam menghadapi ujian ketakutan dari Allah ini. Ternyata jika sudah tau alasannya kenapa melakukan hal tersebut, dan dengan sadar melakukan atas dasar keinginan diri sendiri ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya. 

Takut tidak selamanya buruk, ini adalah salah satu emosi yang wajar dimiliki oleh manusia. Takut adalah tanda waspada akan hal buruk yang pernah terjadi sebelumnya, istilahnya takut adalah cara adaptasi manusia terhadap kejadian buruk sehingga kita waspada jika hal buruk itu terjadi kembali otak kita akan me-recall dan solusi apa yang diambil agar tidak terulang hal buruk dulu terjadi lagi. Jadi, takut itu manusiawi asalkan kita tau bagaimana cara meregulasi emosi (takut) menjadi ikhlas dan sabar.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments