Pentingnya Rasa Cukup

By i k k a r f - Maret 31, 2022

 


Pentingnya mengenali diri sendiri manfaatnya kita bisa tau kapan berkata cukup dan tau kapan mulai kembali melangkah lagi. Sayangnya tidak semua orang sadar dan mau “niteni” (mengenali) dirinya sendiri. Bagaimana cara mengenal diri? Berikut cerita pengalamanku untuk mengenal diri, sampai akhirnya merasa “cukup”.

Cerita Pengenalan Diriku

Hal ini aku sadari ketika masa pandemi datang, pengalaman pertama selama hidup harus di rumah saja dan dilarang keluar rumah. Rasanya seolah Allah menyuruh dunia untuk “rehat”. Sudah cukup manusia terlalu mengeksploitasi bumi dengan serakah, sudah cukup aktivitas manusia yang sibuk 1x24 jam tanpa jeda, dan sudah cukup banyak manusia yang lupa untuk menyembah Tuhannya.

Mulai muncullah issue mental health yang dialami oleh seluruh manusia di belahan bumi ini. Banyaknya fasilitator dan pemateri yang berkaitan terhadap issue ini. Bumi kembali dihijaukan dengan maraknya tema berkebun, terutama di Indonesia. Ada yang mengkoleksi tanaman, ada yang menjual tanaman yang dia ambil dari sungai dekat rumahnya dengan harga tinggi, sampai belajar serius menanam tanaman pangan di rumah.

Aku salah satu yang melakukan hal terakhir tersebut. Permakultur, sebuah konsep baru yang pertama kali dalam hidup aku pelajari. Ternyata dunia pertanian itu menyenangkan, aku baru sadar setelah bapak tidak ada. Dulu aku sering diajak bapak ke kantornya dan melihat banyak hal tentang pertanian. Bapak kerja di dinas pertanian, biasanya datangin sawah satu ke sawah yang lain untuk memberikan penyuluhan pada petani.

Tidak hanya itu, ternyata konsep permakultur ini terlalu dalam aku selami. Aku belajar pemeliharaan tanah, tanpa sadar mempelajari esensi manusia yang bermula dari tanah. Kalau bahasa anak sekarang, cintaku belajar permakultur ini sudah kedaleman. Unsur tanah hampir sama dengan unsur tubuh manusia, dari situlah aku sadar. Who am I? Siapakah aku?

Manfaat Pengenalan Diri

Bagaimana bisa ternyata belajar pertanian bisa nyambung dengan kesehatan (yang nota bene itu ilmu yang aku pelajari di bangku perkuliahan). Dari situ aku jadi semangat untuk belajar banyak hal, semakin dipelajari ilmu Allah itu luas sekali dan aku tidak tau apa-apa. Jika bukan Allah yang menggerakkan hati dan pikiranku untuk mempelajari ini sungguh aku bukanlah apa-apa. Lalu siapa sebenarnya diriku?

Aku juga belajar meditasi, pernafasan dan bagaimana cara mengelola emosi. Sangat manusiawi bahwa manusia memiliki banyak emosi, bukan untuk dihindari namun hal itu perlu disadari kemudian dikelola. Jangan sampai hawa nafsu yang berlebihan (tidak semestinya dilakukan) mengendalikan hati dan akal kita. Tidak ada yang salah terhadap hawa nafsu, jika dipakai dengan benar (fitrah manusia).

Salah satu mengenal diri yaitu tau fitrah manusia itu apa saja. Alhamdulillah aku belajar langsung, meskipun via online dengan Alm. Ustad Harry Santosa. Wajahnya yang teduh mengingatkan aku pada sosok bapak, mirip sekali (Allahummafirlahu). Jika sudah punya ilmunya fitrah manusia itu apa saja, lalu kita akan sadar kemudian harapannya faham sehingga bisa bersabar dan ikhlas dalam menjalani perjalanan di dunia ini.

Ternyata mengenali diri bisa sedalam ini ya, sampai-sampai belajar mengenali Tuhan. Sadar bahwa manusia hanya seorang “hamba” dan Tuhan adalah “Tuan”. Keterbatasan yang dimiliki seorang hamba sudah pasti tidak bisa menyaingi Tuannya. Manusia harus sadar itu! Aku mengenal konsep bahwa hidup ini harus dijalani dengan seimbang, tidak terlalu (berlebihan).

Yang bisa mengenal dirinya ya manusia itu sendiri, dan atas bantuan Allah Sang Pemberi Hidayah. Disini aku hanya bisa memberikan informasi terkait manfaat apa yang aku dapat setelah bisa mengenali diri, berikut poin-poinnya :
1. Bisa merumuskan niat sebelum melakukan segala sesuatu atau memilih sebuah pilihan hidup.
2. Tau kondisi tubuh, kapan harus istirahat dan kapan harus mulai kerja keras. Bisa tau batasan energi diri.
3. Dapat mengelola emosinya dengan baik, butuh praktik dan latihan untuk bisa sampai ditahap ini.
4. Lebih sabar dan ikhlas dalam menyikapi qada dan qadar Allah.
5. Tau pentingnya rasa cukup (Qanaah).

Cukup untuk Katakan Ya

Sekarang ini aku sedang belajar poin nomor 5, yaitu Qanaah. Kebetulan semalam adalah malam Selebrasi belajar di perkuliahan Bunda Produktif batch 2 di Institut Ibu Profesional. Kurang lebih sudah 5 tahun aku mengikuti jenjang perkuliahan yang ada di Institut Ibu Profesional (IIP). Semakin banyaknya tuntutan kerja dan personal Life-ku, rasanya saatnya aku katakan cukup untuk belajar di IIP. Aku butuh jeda untuk tidak melanjutkan jenjang perkuliahan ke Bunda Saliha.

Pencapaianku bisa selesai mengikuti perkuliahan di bunda produktif batch 2 ini adalah hal yang luar biasa. Meskipun tidak benar-benar keluar dari IIP, aku tau kemampuanku saat ini. Satu lagi yang tidak aku lanjutkan adalah berhenti dari kepengurusan komunitas alumni belajar zero waste. Tanganku tak sama seperti dulu, ada amanah baru yang butuh uluran tanganku saat ini. Rasanya sudah cukup aku belajar via online, saatnya mempraktikkan ilmu yang sudah didapat di kehidupan nyata.

Bismillah, semoga apa yang aku pilih ini mendapat ridho Allah. Hal yang sudah terbiasa dilakukan akan terasa tidak enak diawal perubahan. Semoga aku bisa mengatasinya dengan baik. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan kesempatan dan ilmu. Semoga jadi ladang pahala jariyah para fasilitator dan gurunda tersayang. Rasanya aku cukupkan sekian!

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments