Merajut Cinta Ibu dengan Enlightening Parenting

By i k k a r f - Maret 16, 2022


Tulisan ini aku dedikasikan untuk memenuhi challange wajib dari KLIP dengan mengusung tema tulisan "keluarga". Bulan ini adalah kesempatan terakhirku untuk bisa terus lanjut ikut KLIP, kalau sampai gagal maka harus tunggu satu tahun lagi untuk daftar ulang. Aku baca kembali artikel yang aku tulis dengan judul Quarter Life Crisis

Birrul Walidain pada Umi

Aku renungkan lagi paragraf terakhirnya, sebenarnya aku ngejar apa sih? Sempat burn out gara-gara FOMO (Fear Of Missing Out) ikutan kelas ini itu. Bertahun-tahun ikutan kelas offline maupun online dengan beragam keilmuan (tidak fokus 1 keahlian saja), aku ikut karena suka dan menarik. Alasannya pada saat itu untuk investasi ilmu usahaku GnQcorp. Aku pecah lagi alasan itu jadi lebih jujur lagi, ternyata bukan itu.

Aku takut tinggal sendiri, coba ikhlas menerima takdir kalau ternyata aku tidak punya keturunan bagaimana? Pikiranku sudah jauh kedepan, padahal belum tentu itu terjadi. Bertahun-tahun menikah namun tidak kunjung hamil lagi setelah sempat 1 kali keguguran. Tulisanku tentang memaknai rahim membuatku sadar, akan 3 hal yang tidak terputus setelah meninggal membuatku berambisi untuk mencapai hal yang salah.

Tulisan dari Rumaysho.com tentang 3 amalan yang tidak terputus setelah seseorang itu meninggal membuatku berfikir ulang. Tidak bisa mendapatkan doa anak yang sholeh, namun masih bisa dapat ilmu yang bermanfaat dong. Astagfirullahaladzim! Selama ini "cupet" sekali pemikiranku, padahal sempat diingatkan suami lho. Suami pernah berpesan, "baktio ke umi." Simple tapi aku belum paham maksudnya pada saat itu.

Hubunganku dengan umi sedikit banyak tergambar di buku antologi yang aku tulis bersama dengan teman-teman certified AMANI Birth. Kalau penasaran pengen beli, bisa klik contact me (promo dikit boleh dong hehe). Aku sudah ditinggalkan abi (panggilanku ke bapak) tahun 2016, ada penyesalan disana kenapa aku belum ini, belum itu ke abi. Aku nggak pengen penyesalan itu terjadi ke umi (panggilanku untuk ibu). 

Ada cerita menarik saat umroh bareng umi abi. Tahun 2011, kita bertiga umroh bareng. Ada satu hari saat sholat subuh di masjidil haram, umi kebelet buang air kecil. Mau tidak mau umi ke toilet yang letaknya jauh di luar masjid, aku bertugas jaga tempat sholat umi. Sampai di akhir sholat subuh umi tidak kembali, aku sudah janjian bertemu di satu tempat diluar masjid dengan abi (jamaah laki-laki berbeda tempat sholatnya dengan jamaah perempuan).

Singkat cerita, aku dan abi sudah bertemu namun umi belum muncul juga. Aku sudah khawatir dan berdoa pada Allah untuk dipertemukan dengan umi. Alhamdulillah jika berdoa disana Wallahualam pasti terkabulnya, itu sudah janji Allah. Benar saja tidak lama umi menemukan kami berdua di tempat yang sudah kita janjian ketemu (fyi, umi tidak bawa handphone pada saat itu). 

Umroh kedua-pun terjadi lagi, gara-gara pengalaman umroh sebelumnya aku tidak tega jika umi umroh sendirian. Seharusnya umi abi berangkat umroh berdua, Qadarullah sampai Jakarta sebelum berangkat ke Jeddah abi sakit dan meninggal kurang lebih 2 tahun setelahnya. Jadi ada jatah abi yang bisa aku pakai untuk nemenin umi umroh. Lagi-lagi aku kehilangan umi.

Ceritanya saat tawaf sunnah, aku berniat ingin mencium hajar aswad sebab umroh sebelumnya tidak kesampaian. Sepertinya memang aku belum diijinkan Allah untuk bisa mencium Hajar Aswad, hanya bisa melihat dari dekat saja. Keadaan pada saat itu sangat "chaos", tanganku terlepas dari umi dan aku kepisah dari umi. Lagi! Aku berdoa untuk dipertemukan dengan umi, beberapa menit akhirnya aku dan umi bertemu.

Pengalaman dua kali umroh terpisah dengan umi, hati tak karuan membuatku tersadar. Allah SWT masih memberikan waktu untukku untuk merajut cinta dengan umi. Aku sudah banyak membuang waktu tidak segera memulai, banyak alasan ini itu. Salah satunya bagaimana caranya aku dekat dengan umi? Pada saat itu aku juga mendapat cobaan rumah tangga juga. How?

Berubah itu Mengubah 

Tidak ada suatu yang kebetulan, semua sudah diatur Allah SWT. Aku percaya itu! Tidak sengaja aku baca artikel dan beberapa teman yang share tentang Enlightening Parenting. Ada satu artikel mbak Iwed tentang komunikasi suami istri yang membuatku semakin ingin ikut kelasnya. Kebetulan temanku sudah jadi alumninya, aku coba mengantri daftar. Ya! Waiting list jadi peserta EP itu panjang banget. Aku berniat ingin ikut jika ada kelas di Surabaya, kota yang dekat dengan tempat tinggalku sekarang.

Pada saat itu aku butuh belajar komunikasi suami istri yang baik dan benar seperti apa. Sempat aku dapat chat masuk dapat slot untuk kelas di Yogyakarta, namun aku urungkan ikut karena jauh dan tidak memungkinkan pada saat itu ikut. Hikmah positif dari pandemi tahun 2020, pertama kalinya ada kelas EP online dan aku dapat slot untuk ikut. Tanpa pikir panjang aku ambil kesempatan emas itu.

Review setelah ikut kelasnya dan sekarang jadi alumni, satu kata "bahagia". Alhamdulillah terima kasih ya Allah, materi dan metode yang disampaikan mbak Okina dan team sangat "nancheeeuph". Aku dan suami komunikasinya sekarang sudah jauuuh lebih baik. Intinya praktekin meteri yang disampaikan, belajar untuk berubah diri sendiri dulu masalah hasil serahkan sama Allah saja. Berubah itu mengubah! Suami yang dulunya minim bilang terima kasih, maaf. Setelah belajar aku sering ucapkan kata-kata itu, suami jadi ikutan bilang kata-kata tersebut. 

Setelah jadi alumni juga nggak ditinggal begitu saja, kami masih terus didampingin oleh para tim reviewer. Ada acara temu alumni, khusus membahas tema tertentu yang pastinya jadi refresh buat kami para alumni. Semua temanya menarik dan relate, meskipun masih belum punya anak tapi teknik kelola emosi EP bermanfaat sekali untuk kehidupanku sehari-hari. 

Ada satu tugasku masih belum tuntas yaitu merajut cinta dengan umi. Cerita inspiratif dari mbak dini, mbak wita, mba Fira tentang merajut cinta pada orang tua dan mertua jadi contoh baik yang bisa aku ATM (amati, tiru, modifikasi). Teman-teman bisa baca ceritanya di instagram mereka masing-masing, silahkan google sendiri ya.

Pas banget sebentar lagi bulan Ramadhan menghitung hari akan datang, semoga Allah sampaikan usia saya, umi, suami dan mertua untuk bisa beribadah di bulan mulia ini. Temu Alumni EP akan hadir lagi, acara ini tentunya yang aku nanti dan tidak ingin terlewatkan. Pasang alarm, semoga Allah ridhoi bisa mengikuti acara ini serta dapat slot duduk manis masuk kuota zoomnya. Aamiin. 

Teman-teman yang belum jadi alumni EP, bisa klik link yang sudah aku sematkan diatas ya. Bisa juga beli bukunya untuk dibaca-baca sebelum ikutan kelasnya, pokoknya nggak rugi deh buat ikutan kelas ini. Kalau yang sudah jadi alumni EP, inshaAllah kita ketemu virtual ya. Aamiin!


 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments