Cerpen : Terbang

By i k k a r f - Maret 15, 2022

 


Pagi di Hutan Terlarang adalah waktu favoritku untuk melamun.

Hai, kenalkan namaku Kiki. Aku adalah Centaur, manusia setengah kuda yang katanya ada dalam cerita mitologi Yunani. Padahal disinilah aku, hidup di sebuah hutan hujan tropis yang cantik. Pohon tinggi yang jadi kanopi kami para centaur untuk berteduh dari hujan. Hampir setiap hari hujan turun, tidak terlalu deras namun tidak gerimis juga. Hujan disini hangat, tidak membuat kami menggigil apalagi sakit kepala. 

Hutan ini menyimpan banyak keajaiban, mungkin itu sebabnya manusia-manusia itu menyebut hutan ini terlarang. Aku sempat berpapasan langsung dengan segerombolan manusia yang sedang mengacungkan senapan saat aku makan siang. Mereka kaget, akupun tak kalah kagetnya. Bagaimana tidak kaget jika ada manusia yang berbeda bentuk menatapku dengan licik, sedang mengacungkan senapannya tepat di depan wajahku. 

Dorrrr!

Ada sesuatu yang keluar dari senapan manusia itu, secara otomatis ketakutanku mengeluarkan gelembung udara menutupi seluruh tubuhku kemudian aku terbang secepat Buroq. Hewan sejenis kuda yang dulu pernah menemani Rasulullah isra' mi'raj. Kami satu familia namun kedudukan Buroq lebih tinggi daripada para Centaur. Kemudian aku tiba diatas tebing dan "plop" gelembung itu meletus hilang. 

Itu adalah salah satu cerita keajaban dari hutan ini, aku juga tidak tau kenapa jika ketakutan tubuhku otomatis mengeluarkan gelembung dan terbang. Hal ini diluar kendaliku, pernah suatu saat sangking pinginnya terbang aku pernah melakukan segala cara agar muncul rasa takut. Namun, gagal! Kadang hal ini yang masuk ke dalam salah satu daftar list melamunku. 

Aneh! Padahal aku masih satu silsilah dengan Buroq, kenapa kaum kami tidak bisa terbang seperti mereka? Entahlah, semakin dipikirkan semakin pusing kepalaku. 

Kalian bertanya-tanya bagaimana nasib segerombolan manusia senapan tadi? 

Dengar-dengar mereka mati, tersesat di dalam hutan dan tidak bisa kembali ke kampungnya. Bisa jadi cerita itu yang akhirnya menguatkan hutan ini dijuluki sebagai hutan yang benar-benar terlarang. Barangsiapa yang punya niat jahat masuk ke dalam hutan ini, maka tidak akan bisa kembali pulang. Sebaliknya jika niatnya baik, manusia itu bisa menemukan jalan pulang dengan mudah. Begitu cerita leluhurku.

Ah...hari ini rasanya aku ingin terbang, beberapa hari kebelakang banyak pikiran yang menggangguku untuk hidup tenang. Kalau sudah begini, aku rindu manusia licik itu untuk kesini dan mengarahkan senapannya tepat di depan wajahku. Tapi sudah bertahun-tahun tidak ada lagi manusia yang coba-coba masuk ke hutan ini. Lagi-lagi aku menghayalkan hal yang tidak mungkin terjadi. Sudahlah aku kembali pulang saja, sepertinya ibuku menungguku di rumah. 


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments