Bunda Produktif : Jurnal 5. Zona Habit

By i k k a r f - November 08, 2021



Untuk menjadi ibu yang produktif dimulai dari dirimu, sebab kamu adalah kebiasaanmu (habit-mu). Begitu juga di co-Housing WowMom, agar Passion Project dapat terlaksana dengan baik perlu kebiasaan/habit dari para warga co-housing yang saling mendukung dan berkesinambungan.


Sebelum membahas bagaimana para warga CoHousing WowMom membangun habitnya, mari kita belajar terlebih dahulu tentang kebiasaan manajemen waktu dan beberapa teknik yang berhubungan dengan membangun kebiasaan (habit).

Pengertian Parkinson Law

Ada yang menarik ketika saya membaca tweet dari Faiz Ghifari, dia membahas tentang salah satu teknik paling efektif dalam produktivitas. Dengan tau teknik ini kita bisa menyelesaikan pekerjaan secara lebih cepat, namanya Parkinson Law. Parkinson Law menyatakan bahwa pekerjaan kita akan menyesuaikan waktu yang kita targetkan. Maksudnya kalau ada pekerjaan yang bisa selesai dalam 2 jam tapi kita beri deadline 1 hari, kita akan merasa lebih sulit menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Faiz Ghifari mendengar contoh penggunaan Parkinson Law yang baik dari Nusair Yasin (Nas Lab). Ternyata Nusair menggunakan Parkinson Law untuk membuat video secara cepat, dia menentukan deadline 1 hari untuk membuat 1 video setiap hari, dan akhirnya kelar.

Begitu juga dengan Faiz, dia juga menggunakan teknik ini. Dia memasang deadline 20 menit untuk menulis thread tweetnya yang akhirnya bisa beneran selesai dalam waktu 20 menit. Jadi ketika kerjaan kita ga selesai-selesai, mungkin kamu terlalu lama dalam memberikan deadline. Teknik ini cocok bagi aku yang bisa kreatif ketika mendekati waktu deadline (orang-orang menyebutnya Sistem Kebut Semalam/SKS).



Tentang Manajemen Waktu

Masih dari thread twitter Faiz Ghifari, ada 2 style dalam manajemen waktu :
a. Clock-Time Based : berdasarkan waktu. Misalnya tidur jam 10 malam, makan tepat jam 12 siang.
b. Event-Time Based : berdasarkan kejadian. Contohnya makan ketika lapar, atau selesai meeting ketika objective terpenuhi.

Namun, menurut riset dari Anne-Laure Sellier, 2 style ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kalau Clock-Time lebih cocok digunakan ketika kita mengejar efisiensi. Sedangkan event-time akan lebih sesuai ketika goal kita adalah evektivitas. Contohnya, ketika kita ingin membalas email, maka style Time-based lebih cocok. Kita bisa lebih mudah lepas dari penundaan. Tapi kalau kita ingin ngasi kado untuk pasangan, maka syle kedua lebih cocok. Karena yang penting bukan kecepatan, tapi makna dari kado tersebut.

Studi dari Stanford menyebutkan bahwa semakin kita mencoba untuk mengatur pekerjaan agar sesuai dengan waktu kita (Time-based) semakin kita jadi tidak kreatif. Bahkan kita bisa stress. Jadi untuk pekerja kreatif, Event Based lebih cocok secara umum. Tapi kalau kita hanya pake event-time based, juga ga bener. Deadline kita bisa kelewatan, jadi kuncinya adalah tau kapan harus menggunakan pendekatan berbasis waktu dan kapan menggunakan pendekatan berbasis event.


Gimana Caranya Punya Motivasi untuk Ngerjain Sesuatu ?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada rumusnya :



Kalau kita mau lebih termotivasi, berarti tingkatkan bagian atas (biru) dan kurangin yang bagian bawah (merah). Mari kita bahas satu persatu :

Expectancy, seberapa yakin kita bisa menyelesaikan pekerjaan ini? Apakah kita berharap kita bisa mencapai goal kita? Semakin tinggi harapan dan kepercayaan kita, maka akan semakin termotivasi. Untuk meningkatkan expectancy, kita bisa membagi task besar jadi task kecil yang lebih gampang dikerjakan. Makin mudah suatu task, makin tinggi expectancy kita.

Value, seberapa berharga pekerjaan ini bagimu? secara natural, kita akan lebih termotivasi kalau ngerjain sesuatu yang penting menurut kita. Tapi ga semua pekerjaan bisa langsung bernilai di mata kita kan? Misalnya ngebersihin toilet. Lantas gimana solusinya?
Dalam kasus ngebersihin toilet, kita bisa cari alasan lain agar hal tersebut jadi bernilai bagi kita, misal :
membuat keluarga kita lebih sehat, atau membuat kita lebih dipercaya rekan bisnis. Jadi, walaupun sesuatu itu menurut kita kurang bernilai, coba deh cari sisi berharganya.

Delay, semakin kamu menunda, semakin kamu jadi ga termotivasi. Motivasi berbanding terbalik dengan penundaan. Semakin lama menunda sesuatu, maka semakin jadi tidak termotivasi. Solusinya terapin 2 minutes rules. Kalau ada sesuatu yang mau kamu kerjain, cobain langsung kerjain dulu selama 2 menit. Ini cukup ampuh sih biar kita ga nunda-nunda lagi.

Impulsiveness, semakin kamu terdistraksi maka semakin lemah motivasi kamu. Solusinya? Matiin notif sosmed, set waktu khusus untuk kerja, cut subscription yang melenakan (jika waktumu banyak terdistraksi sosial media).


Akhirnya Aku Memilih Habit ini



Di kelas Bunda Cekatan, sedikit banyak saya dan mentor belajar tentang habit dari buku “atomic habit”. Ditemukan satu teknik yang nyaman saya lakukan yaitu Pomodoro. Suatu teknik pengaturan waktu dengan teknik fokus dengan interval selang waktu. Dibantu satu aplikasi di handphone yang bernama "flip", 1 siklusnya terdiri dari 25 menit fokus mengerjakan sesuatu dan 5 menit untuk istirahat. Saya ingin belajar konsisten melakukan 2 siklus (total 1 jam) melakukan teknik belajar materi terkait Project Passion WowMom setiap hari. 




Dimulai hari pertama di tanggal 30 Oktober 2021, saya tidak melakukan teknik ini sebab sedang tugas dinas keluar kota sampai tanggal 31 Oktober 2021. Jadwalnya padat dari pagi hingga malam, ketika kembali ke penginapan sudah lelah dan tertidur. Saya memilih teknik Parkinson Law dengan menggunakan metode Pomodoro, 1 siklus saya gunakan untuk belajar materi kuliah dan 1 siklus-nya lagi digunakan untuk mempelajari materi project passion wowmom.

Saya melakukan hanya sekali, karena memilih manajemen waktu berdasarkan event-time based waktu yang pas dilakukan ketika sudah menyelesaikan to do list urgent di hari itu (kebetulan malam hari). Keesokan harinya karena banyak to do list yang urgent dikerjakan pada saat itu, malam harinya ketiduran karena capek alhasil ke-skip deh. Saya mengevaluasi diri, ternyata harus ditetapkan waktu agar terinstal di otak melakukan pomodoro di waktu itu (clock-time based). Setelah ditelaah pagi hari adalah waktu yang pas yaitu di jam 4 subuh.

Terlaksana hanya sehari saja, materi yang harus dipelajari rancu dengan materi kuliah yang harus saya cicil pelajari. Setelah dipikir-pikir, karakter yang saya pilih kok tidak sesuai dengan habit yang ingin saya bangun. Diskusi dengan teman-teman cohousing WowMom memberikan saya AHA-moment. Akhirnya saya lagi-lagi mencari solusi agar habit dan karakter yang saya pilih masih berkorelasi. Didapatkan hasil seperti dibawah ini :




Karakter yang saya pilih adalah empathy dengan fokus serving (pelayanan). Selama ini saya sudah belajar berbagi ilmu yang saya punya dengan tulisan, suara dan visual. Pandemi tahun 2020 membuat saya berfikir kreatif, publik speaking adalah salah satu kelemahan saya. Setelah mengikuti kelas yang diadakan oleh seorang teman, saya mulai membuat IG live dengan menjadi host narasumber teman-teman saya yang kompeten di bidangnya masing-masing. Terakhir saya menjadi narasumber acara IP Jember Raya, disana saya mengevaluasi diri terkait publik speaking.

Ilmu yang dipunya sudah bagus, namun ketika grogi melanda bisa saja ucapan saya jadi belibet dan terlalu banyak "mikir" ketika memaparkan materi. Oleh karena itu, saya ingin menambah jam terbang saya di bidang publik speaking dengan berlatih selama 30 menit di depan cermin memaparkan materi bagian saya (sesuai project passion wowmom). Habit ini menjadi salah satu hal yang "menyenangkan" terkait memberikan pelayanan (serving) kepada penonton ketika saya memaparkan materi nanti. Kedepannya saya akan melatih hal ini, masih dengan teknik pomodoro 1 siklus (30 menit) dan 1 siklus lainnya konsisten belajar materi (kuliah maupun project passion WowMom).


Check In and Ice Breaking before Habit to Nation


Sebelum membahas dan memikirkan kira-kira habit apa saja yang dibutuhkan coHousing kami, perlu adanya relaksasi dengan check in emotikon dan melakukan sedikit permainan lucu. Masih dengan belajar membangun karakter empathy yang berfokus pada serving, saya berinisiatif membuat kolom mengenai ini di padlet. coHousing kami sepakat menggunakan padlet, cara berkomunikasi selain whatsapp grup. 

Semua warga sudah mengalirkan rasanya di kolom check in dengan memberikan emotikon yang sesuai kondisinya saat ini. Di pekan pertama ice breakingnya menceritakan kegiatan paginya apa saja, rata-rata semua warga cohousing wowmom bersyukur kepada Allah. Jika mengawali hari dengan syukur, kesehariannya akan terasa ringan karena diniatkan ibadah kepada Allah.


Pekan ke-2 ada tambahan ice breaking dari leader kami mbak mita, kami diminta untuk bercerita untuk berandai-andai memberi nama anak pertama dengan nama tempat dimana pertama kali bertemu pasangan kami pada saat ini. Aku menjawab "smapa", sebab suamiku teman satu angkatan SMA. Pertama kali bertemu di SMA negeri 4 Jember disingkat dengan sebutan SMAPA. Tapi dipikir-pikir nggak mau deh anak pertama diberi nama itu 😆


Habit yang Menunjang Project Passion CoHousing WowMom


Goals kami selama 2 bulan pertama membuat kelas yang kami beri nama "wowmom accademy", sambil menuliskan materi dan hasil kelas dalam sebuah jurnal. Jurnal tersebut disusun untuk dijadikan sebuah buku yang nantinya akan dijual untuk mendapatkan profit untuk wowmom. Untuk mencapai goals Project Passion kami ini diperlukan adanya road map agar tidak tersesat. Berikut ini akan dijelaskan beberapa habit yang menunjang goals kami dan milestone pertama yang sudah kami lakukan bersama.




Setelah berdiskusi bersama-sama, kami merumuskan millestone bersama dengan melihat habit yang dimiliki oleh warga cohousing WowMom. Selama 2-3 bulan pertama kami fokus untuk "self-branding" para warga WowMom ke khalayak umum. Kami membagi materi sesuai dengan keahliannya di bidang masing-masing, masih dalam tema 1000 HPK. Masing-masing kami menyiapkan materinya masing-masing, memilih metode edukasi sesuai dengan kenyamanan masing-masing dan menjurnalnya setelah "manggung". Jurnal yang sudah masing-masing tulis nantinya akan dijadikan 1 buku (final project). 

Saya dan mbak uul menjadi tim RnD, tugas kami mengumpulkan materi para wowmom dan bisa menjadi teman diskusi terkait ide atau materi. Wowmom membutuhkan habit manajemen waktu, konsisten dan manajemen mood. Disinilah saya belajar untuk menguatkan karakter yang sudah dipilih. Beberapa hal mengajukan diri untuk mengeksplore padlet yang baru bagi saya, namun belum bisa memberikan hal yang maksimal sebab masih kaku untuk berkata-kata. Tugasku untuk cari tau hal apa saja agar bisa mengasah karakter sympathy jadi lebih baik lagi.

"Watch your thoughts, they become words; watch your words, they become actions; watch your action, they become habits; watch your habits, they become character; watch your character, for it becomes your destiny." We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit." Aristotle. 









  • Share:

You Might Also Like

0 Comments