Bunda Produktif : Jurnal 3. Passionku, passionmu, project passion WowMom

By i k k a r f - Oktober 16, 2021

Apa passionmu pembaca? Jurnal ketiga kali ini berbeda dengan 2 jurnal sebelumnya. Masuk ke zona passion membuatku bertanya-tanya, apa ya sebenarnya passion-ku? Ada sebagian orang sudah mantap mengetahuinya, sebagiannya lagi masih bingung (termasuk aku). Apalagi WowMom yang notabene baru lahir. Mari sini kita ngobrolin "passion".

Kita tak perlu bercita-cita menjadi seorang Inspirator bagi orang lain, namun jadilah inspirator untuk diri sendiri agar menjadi orang yang lebih baik lagi, sehingga tanpa diminta orang di sekitar akan terinspirasi dengan kita. Jika orang lain tidak terinspirasi dengan kita, kita juga tak akan kecewa karena kita bertekad sedari awal bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk perubahan diri menjadi yang lebih baik. (Septi Peni, Founding mothers IP)


Aku suka quote dari bu Septi tentang "inspirator" diatas, menurutku itulah gabungan antara ibadah (ikhtiar) dan ikhlas. Biasanya bisa sampai ke tahap itu haruslah melakukan hal yang kita sukai dulu, jadi nggak ada "beban" ketika berikhtiar. Kemudian aku bertanya-tanya, apa yang aku sukai di dunia ini? Jawabannya kok banyak sekali ya, mulai yang random sampai "bernilai".   

Jika boleh flashback, dulu ketika masa kuliah di Malang aku diberi julukan "mupeng" oleh teman-teman kosku. Kalau lagi kumpul di kosan semua, kadang bisa lama di salah satu kamar ngumpul ngobrolin ini itu. Kata yang keluar dari mulutku, "aku pengen itu deh." "Sama! aku juga pengen itu." "Kalau punya itu enak kali ya?" Kebanyakan yang dipengen, akhirnya aku dijuluki "si muka pengen (mupeng)". Hehe 

Pengertian Passion

Jadi kepengenan dan kesukaan apakah itu yang dinamakan Passion? Menurut ibu Septi, Passion adalah perasaan yang sangat kuat seseorang pada sesuatu. Passion seringkali menjadi akar dari berbagai hal sebelum seseorang melakukan sesuatu. Dengan adanya passion, seseorang seringkali terdorong berinisiatif melakukan sesuatu tanpa diminta.

Aku sempat menyinggung hal ini di salah satu artikelku yang berjudul Quarter Life Crisis, semua aku pelajari sampai pernah mengalami "burnout". Namun setelahnya aku memberi jeda untuk berdiskusi dengan diriku sendiri (muhasabah diri), sebenarnya apa yang benar-benar ingin aku lakukan di dunia ini? Satu jawaban yang terlintas dibenakku, aku ingin lebih banyak "berbagi" kepada orang lain.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang ingin dibagi? Lagi-lagi aku mendengar suara dari dalam diri, "ya apa saja yang Allah titipkan saat ini." Aku tidak ingin mendefinisikan misalnya uang gajiku ini milikku, uang ini titipan Allah yang diamanahkan ke aku. Selain berupa fisik, aku ingin berbagi "non fisik" juga, salah satunya ilmu yang sudah aku pelajari selama ini sampai gumoh. Ada salah satu teman berpesan kepadaku, kalau udah dapat "ilmu" dari Allah ya harus dikembalikan lagi (dibagikan ke orang lain). Sejatinya toh manusia nggak punya apa-apa kan?!

Sampailah aku di posisi sekarang, semakin bertambah usia seseorang rasanya ingin lebih fokus terhadap satu hal. Hasil dari aku belajar juga sebaiknya seseorang untuk menjadi ahli itu ya harus fokus di satu hal saja. Latar belakang pendidikan dan benang merah dari beberapa ilmu yang aku pelajari, kesehatan ibu dan anak yang berkelanjutan (sustain health for woman and child) adalah salah satu yang ingin aku dalami.

Pembagian Passion

Agar lebih aktif dan produktif, sebaiknya berupaya untuk menemukan passion yang cocok dan menumbuhkan sesuai dengan perkembangan diri kita.
1. Passion for Knowledge, perlu dimiliki seseorang agar mau mempelajari suatu keahlian atau pengetahuan.
2. Passion for Business, dianjurkan dimiliki agar orang terdorong untuk menjadi mandiri dan tidak menjadi beban orang lain secara finansial.
3. Passion for Service, manusia adalah makhluk sosial, sehingga secara naluriah ada dorongan untuk selalu terhubung dan melayani sesama.
4. Passion for people, passion ini banyak mempengaruhi bagaimana kita membentuk, menjaga dan mengembangkan passion kita sehingga bermanfaat untuk orang banyak.

Dari penjelasan pembagian passion dari bu Septi diatas ternyata aku sudah melakukan semua hal diatas. Aku memulainya dari passion for business, sejak usia produktif aku ingin punya penghasilan yang stabil. Kenyataannya beberapa kali gagal, namun aku tidak patah semangat aku mencari passion for knowledge. Setelah aku membuat suatu brand yang aku beri nama GnQcorp, dari situ ingin belajar banyak ilmu (sebelum pandemi sampai sekarang) mulai yang berbayar sampai gratis.

Kembali ke niat awalku ingin lebih banyak "berbagi" maka aku memilih menjadi socioentepreneur (passion for service). Perlahan-lahan visi misi brand yang aku bangun sudah terbentuk, seperti yang sudah aku ceritakan diatas brand ini berfokus pada kesehatan secara penuh. Jasa layanan dan produk yang aku tawarkan haruslah yang berhubungan erat dengan melayani sesama secara holistic cares. Secara tidak langsung passion for people juga ada dalam  passionku.

Pengembangan Passion

1. Fundamental life stage (knowledge), usia 0-20 tahun. Tahap ini biasanya orangnya bebas, energik, suka eksplorasi, punya imajinasi, belajar cari solusi, dan mulai kenal tekanan.
2. Forefront life stage (bussiness), usia 20-40 tahun. Tahap ini mulai menambah penghasilan, ingin mandiri, mencari pasangan hidup, finansial bagus, dan membangun reputasi berkomunitas.
3. Foster life stage (service), usia 40-60 tahun. Tahap ini relatif lebih mapan dari fase sebelumnya, sudah mulai bisa berbagi, midlife crisis lalu mulai refleksi, dan mulai berkontribusi mendukung sesama.
4. Final life stage (people), usia 60 tahun keatas. Tahap ini memiliki banyak pengalaman hidup, terdorong membantu sesama, biasanya sudah bijaksana, dan menghargai setiap moment kehidupan.

Ternyata tidak perlu tahapan diatas berurutan, ada juga di usia diatas 60 tahun berada di fundamental life stage (suka mencari ilmu/pengetahuan). Seperti aku memulainya di usia 30an baru semangat coba hal baru, ilmu/pengetahuan baru. Kemudahan akses mencari ilmu, juga salah satu faktor penunjang juga. Finansial yang stabil lebih mudah menjangkau ilmu yang "disukai" (jika itu harus berbayar). 

Usia 20 tahun kebawah rata-rata belajar secara formal, kebetulan Allah mengizinkan aku belajar kesehatan di kebidanan. Hal tersebut aku jadikan dasar ilmu untuk fokus menjadi ahli saat ini. Setuju sekali dengan "mulai kenal tekanan", di usia ini biasanya orang tua ikut berperan memberi masukan sedangkan pada saat itu belum menemukan passion apa yang ingin dipilih. Benturan ini yang biasanya terjadi, akhirnya baru menemukan "kesenangannya" di usia 30an, 40an bahkan 60an keatas (seiring dengan apa yang dilihat, didengar dan dibacanya). 

Bagaimana dengan pembaca? Aku percaya cerita hidup tiap manusia itu unik, tak ada yang sama plek ketiplek.

Project passionku



Ini project passion buat diriku pribadi, passion sudah dipilih dan aku telah melewati 3 life stage passion (fundamental, forefront dan foster life stage). Ketiga life stage tersebut masih aku lanjutkan sampai sekarang dan ingin menambah final life stage. Hard skill yang sudah aku pelajari mulai sekolah formal sampai pelatihan informal, sedangkan soft skill yang sudah aku pelajari dan menurutku ini sangat menunjang passionku yaitu publik speaking, dan wellbeing. Enlightening Parenting (founding mothersnya bu Okina) sangat membantu aku belajar untuk mengenal dan me-manage emosiku, nantinya ini akan aku share dengan orang lain.

Aku rasa ilmu yang sudah dipelajari cukup untuk dibagikan ke orang lain, meskipun tidak berhenti belajar ilmu baru maupun mengulang ilmu lama. Tantangan versiku justru ada di 3 hal ini : endometriosis, tidak punya team work dan prokrastinasi. Sebagai endometriosis survivor jadi salah satu tantangan buatku karena setiap bulan aku ada beberapa hari tidak bisa produktif, jika aku punya team work ketika sakit aku bisa tetap produktif. Aku butuh partner yang bisa kerjasama untuk bahagia bareng. 

Kalau prokrastinasi menurut wikipedia, tindakan mengganti tugas berkepentingan tinggi dengan tugas berkepentingan rendah sehingga tugas pentingpun tertunda. Aku sering mengalami ini, ternyata ini bukan tentang menunda pekerjaan saja (bukan tentang manajemen waktu saja), namun sangat erat berhubungan dengan emosi. 

Aku coba cari tau dengan cara menjurnal, ketika prokrastinasi "datang" aku coba nulis dijurnalku dan mencoba untuk helicopter view (istilah yang mempresentasikan tentang cara melihat suatu kondisi dari berbagai aspek). Ternyata memang menunda pekerjaan hadir saat jenuh atau ada kejadian yang memantik emosiku. Ilmu di Enlightening Parenting sangat membantuku.

Tantangan dan solusi sudah terdeteksi, lalu ide apa yang ingin aku lakukan kedepannya? 

Ada 3 ide yang ingin aku lakukan, yaitu mencoba untuk mengenalkan diri sendiri (self branding)  dan brand yang sudah aku dirikan. Aku tidak bisa sendiri, perlu mencari dan kenalan dengan beberapa orang untuk membuat team work. Selain itu aku harus menyiapkan silabus program mentoring yang ingin aku buat diberi judul "101 sustain health for woman". Januari tahun depan insyaAllah brand-ku udah berumur 7 tahun, tema ini akan aku usung saat anniversary nanti. Doain ya, semoga diberkahi Allah SWT.

Project passion WowMom


Tahapan diskusi di CoHousing Gabungan 3 WowMom proses “collecting problem” pertama-tama kami melakukan pertemuan secara online menggunakan aplikasi google meet. Ini dilakukan pekan lalu, harapannya kami ber-9 berkenalan lebih dekat satu sama lain. Kami sepakat untuk memilih hari jumat malam hari untuk melalukan tele conference, tak terasa dimulai pukul 20.00 berakhir pukul 21.30 wib. Asyik sekali ngobrol bareng sesama perempuan yang sevisi. CoHousing kami merupakan gabungan peminatan ibu dan anak serta parenting.

Dari ngobrol santai tersebut, sudah mulai terlihat apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan masing-masing anggota WowMom. Semakin jelas lagi ketika materi dari ibu Septi dipaparkan di hari Selasa siang. Kami riuh diskusi di CoHousing WowMom, meskipun informasi masih belum penuh kami semangat untuk mencari tau passion masing-masing anggota.

Hari Rabu Mardikaa melakukan streaming untuk sesi tanya jawab dan sedikit menambahkan informasi dari materi ibu Septi kemarin. Lumayan ada kendala di hari itu, aku yang belum bisa nyimak Mardika secara live harus bersabar nonton siaran ulangnya. Alhamdulillah Rabu pkl 21.00 wib akhirnya siaran ulang sudah bisa diakses, semakin lengkaplah informasi yang bisa aku tangkap.

Rasa bersalah di beberapa pekan lalu karena kurang berkontribusi banyak di coHouse ingin aku tebus di pekan ini. Filosofi “cogito ergo sum” (aku berfikir maka aku ada) melekat erat dibenakku. Aku berusaha “hadir” berdiskusi dan memberi ide semampuku. Benang merah untuk menyatukan kami ber-9 untuk membuat passion project tidaklah mudah, namun sudah mulai menemukan titik terangnya.



Setelah berdiskusi akhirnya sudah diputuskan membuat project yang diberi nama "wowmom accademy". Latar belakang pembentukan project ini, menjadi ibu itu kompleks dan tidak ada sekolahnya. Banyak permasalahan yang sering terjadi pada ibu dan anak. Mulai dari persiapan kehamilan, menjalani kehamilan, kelahiran, post partum, menyusui, menggendong, mpasi, membersamai tumbuh kembang anak terutama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Potensi hexagonia yang ada di cohouse wowmom InsyaAllah bisa berkontribusi memberikan solusi. Sangat berbeda hasilnya ibu yang mendapatkan pendidikan dan pendampingan dalam membersamai anak, bahkan jauh sebelum anak itu dititipkan ke dalam rahim. Salah satu indikator yang menggambarkan kesejahteraan masyarakat dalam keberhasilan suatu negara tergantung pada ibu dan anak.

Hari minggu, 17 Oktober 2021 merupakan tanggal yang dipilih untuk pemaparan masing-masing cohouse di cluster Nusantara. Jenis sharing project passion kami nantinya dengan membuat kelas dan sharing session baik secara gratis maupun berbayar. Solusi yang ditawarkan yaitu edukasi, konseling, mentoring berupa kulwap/kulzoom, workshop, dan shari g di social media seputar ibu dan anak.

Semoga Allah memberkahi dan meridhoi rencana kita, anda dan wowmom untuk berbagi kepada khalayak umum. Aamiin.


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments