Fase kepompong day 12

By i k k a r f - April 18, 2021

     

Menurut saya, mengenali diri sendiri itu penting. Saya suka menantang diri, sampai suka "push" diri sendiri untuk menyelesaikan tantangan sampai tuntas. Terkadang sampai "push" diri sendiri, saya sampai mengabaikan sekitar untuk bisa mendapatkan badge terbaik yang dibuat saat itu. Di satu sisi hal ini baik, tapi disisi lain saya merasa capek dan kurang "menikmati" tantangan. Oleh karena itu, di tahapan telur saya ingin melakukan perajalanan di Hutan Kupu Cekatan ini secara sadar (mindfullness) dan mencoba slow living.

Apa makna slow living? Beberapa postingan saya pernah menyinggungnya, apakah saya harus santai dan lambat melakukan tantangan ini? Lalu apa maksut melakukan tantangan secara sadar (mindfullness). Oke! Saya akan menjawab dengan teori dan versi saya.

Mindfullness atau Ihsan dalam Islam sudah menjadi pilar utama dalam agama Islam. Cuma yang membedakan mindfullness dalam Islam yang disadari adalah Allah yang dekat dan selalu bersama, sedangkan mindfullness dari selain Islam adalah kesadaran akan keadaan yang dialami sekarang. Contohnya, menyadari bahwa Allah selalu bersama dan setiap perbuatan harus diniatkan karena Allah. Sedangkan slow living dalam Islam menurut saya, konsep hidup untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam setiap keadaan.

Jika dikaitkan teori diatas dengan tantangan yang saya pilih adalah saya ingin melakukan selfcare agar bisa maksimal beribadah kepada Allah. Kenyataan yang saya rasakan, menstruasi saya tidak teratur. Ketika heavy flow, saya kesakitan dan tidak produktif. Baik itu mengerjakan pekerjaan domestik maupun publik. Untuk kembali ke kondisi "normal" dari heavy flow itu butuh berhari-hari. Hal ini membuat saya sadar, bahwa alarm tubuh saya menyampaikan sinyal "bahaya". Jadi saya harus memperbaiki diri, agar hormon lebih stabil dengan cara yang makruf.

Untuk mengetahui cara makruf yang saya pilih sudah benar atau belum saya butuh ilmu. Saya mengikuti kelas intensif dr.Meity, dan menurut ilmu yang dr. Meity sampaikan adalah salah satunya dengan mengurangi beberapa makanan (sudah saya sebutkan di hari pertama tantangan 30 hari). Meskipun sampai sekarang saya belum sampai menghindari makanan ini, tetapi saya sudah berhasil banyak mengurangi makanan instan dan makanan banyak proses. Ada proses "pengganti" sebelum sampai bisa clean eating, menurut saya ini sudah membahagiakan.

Tidak bisa kita pungkiri juga, kita hidup di zaman instan dan serba cepat. Seolah-olah society menuntut hasil kita daripada proses yang telah kita lakukan, hal ini sedikit banyak mempengaruhi diri saya juga. Dengan slow living membuat saya lebih menghargai proses, bersabar dan bersyukur dengan apa yang sudah saya lakukan. Selama ini saya sudah terbiasa dengan multitasking. Makan-pun kalau nggak nyambi lihat handphone kayak ada yang kurang. Oleh sebab itu saya ingin berproses melakukan monotasking selama 1 jam dalam sehari. Memberikan fokus dan perhatian saya selama 1 jam salah satu aktifitas di satu hari itu. Saya percaya proses!

Kemarin saya menuliskan dengan semangat untuk pomodoro 1 jam dengan melakukan tadabur Qur'an. Ternyata ada hari saya melakukan tadabur Quran nggak sampai 1 jam, but it's okey. Sebab saya melakukan fokus saya selama satu jam dengan melakukan aktifitas lain. Saya bersyukur akan hal ini, saya juga bersabar dengan besok coba lebih baik lagi secara bahagia. Toh aktifitas yang saya lakukan juga salah satu proses ibadah kepada Allah juga kok.

Tulisan saya hari ini semata-mata untuk mengingatkan diri saya sendiri, it's okey hari ini dapet badge "very good" lagi. Bersyukur karena lebih baik dari hari kemarin yang dapat badge dibawah ini. Fokus 1 jam hari ini saya merangkum kelas dr. Meity senin 2 minggu lalu, untuk saya bisa siap menerima ilmu baru lagi di hari senin besok InsyaAllah. Puasa pekanan hari kedua ini, Alhamdulillah saya baru bisa menyiapkan makanan di kukus 25% dari isi piring saya hari ini. Good Job, myself 💚



 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments