Refleksi di Tepi Danau Cermin - Bank Ilmu Pekan 2

By i k k a r f - Maret 23, 2021



Kini saatnya memulai perjalanan lagi ke tepi Danau Cermin. Setelah kemarin pekan yang penuh kasih sayang antar ulat, kali ini para ulat diajak refleksi diri. Apakah keriuhan bersosialisasi antar ulat sudah sesuai dengan mindmap yang sudah dibuat atau malah terlalu banyak cemilan dan menggendut tapi tidak bergizi bagi saya. Saya ambil peta saya di dalam ransel. Saya teliti kembali niat awal saya.

Saya buka kembali telur hijau, diantara kelimanya saya memilih masak. Lalu saya lihat telur merah saya, ada management waktu, management emosi, management dapur, type gut, dan menu sehari-hari. Dari sini saya ingin memulai masakan yang sehat sesuai tipe usus (gut) saya. Lanjut berjalan ke telur orange, saya ingin belajar tentang slow living, wellness kitchen, melakukan perubahan dengan EP (Enlightening Parenting), memasak resep sesuai tipe usus (gut) dan belajar bagaimana sehat menurut Rasulullah.

Dari telur-telur diatas saya ingin menjadi ahli gizi keluarga secara holistik. Disini saya masih bingung, apakah goal saya nanti berupa masakan sehat atau penghitungan kalori untuk pembuatan meal plan? Lalu saya tetap terus berjalan, masuk ke 2 keluarga masak dan selfcare. Meskipun di telur-telur ada management waktu, management emosi sempat tergiur juga ingin masuk ke keluarga sana. Tetapi itu bukan yang saya butuhkan, Magika memberi peluang hanya boleh masuk 2 keluarga saja. 

Alhamdulillah, setelah masuk ke 2 keluarga masak dan selfcare saya mendapat ilmu dibawah ini. Serta saya masukkan juga beberapa kado yang berhubungan untuk menjadi holistic nutritionist. Ada 3 hadiah yang saya dapatkan, yaitu foodprep versi atiit (seorang pegiat minimalist dan holistic care) kebetulan saya sudah follow lama beliau dan saya senang sekali mendapat hadiah ini. Kemudian saya juga dapat hadiah mengenai lemak visceral dan skeletal muscle. Selain dari 3 hal tersebut saya dapatkan makanan utama dari keluarga masak (foodprep dari mb. Bhekti) dan hasil diskusi di keluarga selfcare.

Setelah berdiskusi di 2 keluarga, ngobrol dengan banyak ulat dari berbagai keluarga dan membaca ulang peta yang sudah saya buat akhirnya saya sudah tau tujuannya. Kalau saya sebelumnya melihat dari tipe usus, kali ini saya merubah pandangan saya dengan melihat hasil perhitungan kebutuhan kalori, lemak visceral dalam tubuh saya dan massa skeletal muscle. Hal ini lebih "real" dan hasil saya berbincang dengan ahli gizi juga menyarankan mengatur makanan dihitung dari hal tersebut daripada melihat dari "gut".

Data sudah didapatkan, lalu diet apa yang digunakan? Begitu banyak diet yang banyak diciptakan oleh beberapa orang, maka saya memutuskan untuk memilih diet menurut Rasulullah dan Al-Qur'an. Setelah dicari tau, saya ingin menggunakan diet Abasa. Prinsip dari diet ini juga hampir sama dengan WHO dan Kemenkes berfokus pada "apa isi piringku". Nah, tugas selanjutnya berapa gram atau menentukan isian piring yang masih saya cari tau ilmunya di luar hutan. Lalu saya coba gunakan metode kontrol kalori dg telapak tangan (hasil diskusi dengan keluarga selfcare).

Dari awal fokus saya menjadi ahli gizi, kalau berbicara ahli gizi ya memang harus masuk untuk hitung menghitung. Terkesan njlimet tetapi inilah tantangannya mencari rumusan yang mudah untuk saya jalankan. Kalau diawal ingin membuatkan diet untuk ibu dan suami, setelah mencoba mengenal diri akhirnya saya fokus ke diet untuk diri saya sendiri dulu saja. Ini menjadi tantangan saya, perlu menggunakan management waktu dan emosi untuk melakukannya. Untuk management dapur (wellness kitchen) insyaallah sudah banyak sekali ilmu yang di dapat dari go live dan sharing di 2 keluarga.

Sempat kebingungan, bundcek punya "cara" sendiri melakukan perjalanan di hutan kupu cekatan. Saya juga mulai berjalan menggunakan "peta" saya sendiri, dengan membuat challange "merubah habit". Ternyata semakin kesini sudah ada titik temunya, pandangannya dan ada sedikit perubahan tetapi masih "on the track". Seperti sekarang kalau di bundcek sedang fase refleksi, sedangkan di peta saya sedang ada di bank ilmu. Jadi melakukan refleksi sambil belajar ilmu yang perlu saya cari di luar hutan.

Mengapa saya harus challange habit? Hal ini berkaitan untuk membuat meal plan yang sesuai dengan keadaan saya, lalu memasak atau sekedar menyiapkan makanan untuk diet saya sendiri. Perlu konsisten (istiqomah) dan komitmen untuk bisa melakukan hal ini, mengingat kesibukan saya di ranah publik. Saya perlu usaha lebih untuk akhirnya menemukan "isi piring" yang sesuai dengan kondisi saya. Jika saya sudah aplikasikan di hidup saya, nantinya saya bisa buatkan diet untuk anggota keluarga saya sesuai kebutuhan mereka. Masalah kesehatan tiap orang berbeda-beda, oleh karena itu bisa jadi "isian piring" setiap orang tidak sama. Bismillah, semoga Allah mudahkan! 




  • Share:

You Might Also Like

0 Comments