Fase Ulat : The Jungle Of Knowledge - Screening Pekan 1

By i k k a r f - Februari 10, 2021

 #institutibuprofesional

#hutankupucekatan

#tahapulat

#inimakananku

Sampailah kita di fase ulat, setelah sebelumnya memilih daun mana untuk dihinggapi telur-telur dan akhirnya kini si telur menetas menjadi seekor ulat yang kelaparan dan ingin memakan daun-daun ilmu yang gurih. Pastinya daun pilihan yang sudah ada di mind mapping sang ulat dong ya, sebab ulat ini unik dan berbeda daripada ulat-ulat lainnya. 

Daun pertama yang ingin dilahap namanya daun screening. Jika ditranslate ke bahasa Indonesia artinya penyaringan. Jika melihat timeline mind mapping saya, masa makan daun screening ini selama 2 pekan (2 minggu). Saya petakan semua kegelisahan, dan mengevaluasi mengapa time management yang sudah saya buat tidak istiqomah saya lakukan (list kendala yang dihadapi selama ini).



Saya sudah merasa cocok dengan time management yang sudah saya buat diatas, aktifitas wajib yang dilakukan di jam-jam tersebut. Saya juga tidak mau terlalu "spaneng" alias tegang ketika berproses menjadi ahli. Prinsip mindfullness dan slow living akan menjadi prinsip saya. Sebab di kelas-kelas sebelumnya saya terlalu stress ketika mengerjakan tugas di setiap tahapannya. Oleh sebab itu saya perlu mengatur daily routine dengan berkesadaran.

Masalah saya hadapi selama ini adalah kurang istiqomah dan kurangnya daya juang. Lalu saya membaca postingan mbak Okina tentang tema "mengubah kebiasaan lama ke kebiasaan baru" dan saya belajar tentang "Habit Loop". Kebiasaan yang kita lakukan tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari perilaku yang diulang-ulang sehingga menguat, lalu seolah-olah menjadi otomatis dan tersimpan di Basal Ganglia. Proses terjadinya kebiasaan sehingga dilakukan berulang-ulang seperti lingkaran (bisa lingkaran setan bisa lingkaran berkah, tergantung jenisnya.

Habit Loop terdiri dari 4 komponen yaitu cue (pemicu), craving (dorongan/hasrat), reward (terpenuhinya hasrat) menghasilkan asosiasi ke cue, dan response (tindakan/perilaku memenuhi hasrat). Maka ketika ingin membangun kebiasaan "bangun sebelum subuh". Hal yang akan saya lakukan :
1. Pilih Cue/pemicu yang spesifik 
2. Ciptakan craving yang menggiurkan (bisa berupa strong why atau receh why)
3. Permudah terjadinya response
4. Nikmati banget-banget si reward

Dari keempat komponen diatas saya masih bingung untuk memilih apa jawaban nomor 1 sampai 3, tetapi saya pernah berada di nomor 4. Ketika saya berhasil melakukan semua aktifitas daily routine yang sudah saya buat, rasanya endorphine datang merasa puas dan berhasil. Tubuh juga nyaman dan bugar setelahnya, itu artinya sebenarnya saya bisa dan jadwal yang saya buat sudah cocok sesuai versi saya. Tugas saya untuk mencari apa yang membuat saya "craving bangun sebelum subuh". Lanjut hal berikutnya adalah menciptakan ruang kerja (dapur) menjadi tempat yang menyenangkan ditinggali berjam-jam.

Untuk bisa sampai kesana, saya harus membuat suasana "playgroung" dapur sesuai fungsi dan nyaman. Pastinya juga harus mempunyai bekal ilmu yang baik mengenai "wellness in my kitchen". Oleh karena itu saya perlu menyaring, memilah dan memilih hal-hal apa saja yang belum ada dan apa yang sudah ada/saya sudah punyai. Tentunya saya tidak ingin sehat sendirian, anggota keluarga di rumah juga harus sehat. Jadi saya perlu untuk mencari tau apa kebutuhan suami dan ibu saya, screening ini akan saya lakukan di pekan berikutnya.

Mari kita jalan-jalan dahulu ke dapur rumah. Kami mempunyai dapur bersih dan dapur kotor, serta mempunyai dua lemari pendingin (yang satu punya ibu, yang satu punya suami saya ketika dulu tinggal di Surabaya). Setelah berunding dengan ibu, saya ingin menggunakan playground dapur bersih dan satu lemari pendingin khusus yang hanya saya yang boleh menghandle-nya. Alhamdulillah ibu setuju dan malahan membeli rak untuk saya menaruh bumbu. Senangnya!

Ternyata banyak sekali barang milik ibu yang bisa dimanfaatkan untuk pengorganiasian barang-barang di dapur. Sebisa mungkin saya meminimalisir membeli barang baru, dan lebih memilih untuk memakai barang yang ada di rumah. Inilah hasil berbenah saya :

pertama-tama kita ke frezer, sebelumnya semua dimasukin jadi satu dan tidak rapih. Kemudian saya mencoba mengorganisasi di taruh di wadah yang sesuai dengan isinya. Sekarang terlihat rapih dan enak ketika ingin mengambilnya.

  

Pindah ke lemari pendingin dibawahnya-pun sama, tidak tertata dan asal masuk saja. Lagi-lagi saya memanfaatkan Tupperware ibu saya yang hanya ditumpuk saja di lemari hehe Alhamdulillah sangat bermanfaat dan terlihat rapih. Ada beberapa bahan makanan yang perlu alas, saya menggunakan kain tipis untuk alas di dalam kotak penyimpan berfungsi untuk melembabkan bahan makanan agar tidak cepat busuk.


Food preparation sangat penting untuk saya yang mempunyai banyak kegiatan. Peran lemari pendingin sangat besar bak penyelamat bagi saya. Tetapi ada bahan makanan yang tidak boleh ditaruh di dalam kulkas lama-lama. Kalau boleh memilih sih sebenarnya "kulkas alami" yang paling baik untuk tubuh manusia. Oleh karena itu, saya usahakan menanam sayuran, herbal dan bunga-bungaan di "kebun kolam" saya. Nah, inilah "kulkas mini alami" saya :


Saya kompromi dengan ibu untuk meminta pojok rumah ini, dulu bekasnya kolam ikan sekarang sudah ditutup tanah (asal mula nama kebun kolam) sebagai playground saya. Jadi khusus disini hanya saya yang boleh rapihin tanamannya, biasanya kalau nggak sabtu atau minggu ngerapihin tanaman yang sudah sangat rimbun. Terkadang kami panen beberapa sayur seperti bayam brazil, mint, bunga telang, pohon gedhi, dll. Saya suka jus sayuran dari hasil panen kulkas alami saya ini, yang pasti aman dan tanpa pestisida.

Lanjut ke dapur ya.. Maaf foto before-nya ternyata blur, terlihat sekali sebelumnya dapur ini jarang dipakai. Biasanya kami memasak di dapur belakang, jadi sangat sedikit bumbu masakan disini. Setelah kompromi dengan ibu, akhrinya inilah penampakan dapurnya sekarang. Bumbu dan beberapa bahan masakan yang saya perlukan saya taruh disini. Begitulah kalau tinggal di rumah orang tua, harus pandai-pandai kompromi dan diskusi dahulu. Kalau tidak bilang dahulu, ibu saya suka bersih-bersih. Barang atau tanaman saya pernah "diberisin" ibu. Ketika saya butuh dan dicari sudah tidak ada hehe. Alhamdulillah.


Berikutnya pindah ke lemari kitchen set ala-ala, yang sebelumnya sangat tidak teratur dan tidak sesuai fungsi. Ketika berbenah saya kaget menemukan kacang mede yang sudah busuk, ya Allah dosa banget saya asal beli lalu di taruh gitu aja. Gara-garanya pengen buat susu dari kacang mede, tetapi alatnya rusak masih dibenerin lama banget. Akhirnya lupa, baru ketauan waktu beberes lemari kemarin. Sekarang lemari sudah wangi, rapih dan sesuai fungsinya.


Lemari pertama awalnya digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan perintilan seperti tisu dan sedotan. Sekarang sudah menjadi tempat penyimpanan blender, cold pressed juice, dan alat penunjang "perhalusan". Sebab saya suka membuat jus ataupun susu dari kacang-kacangan, jadi untuk memudahkan pencarian saya jadikan satu dan taruh di lemari bagian pertama ini.


Pindah ke lemari kedua, awalnya bagian ini digunakan ibu untuk menyimpan gelas untuk suguhan ke tamu, lalu toples kue kosong, perintilan lain seperti sabun, odol, shampoo (peralatan mandi) disimpan disini. Lalu sekarang sudah beralih fungsi menjadi penyimpan bahan minuman seperti kopi, teh, coklat bubuk, bunga kering, gula, serta bumbu makanan juga (bubuk cabai korea, tepung gluten free, dll). Saya dan suami suka minum kopi, teh, dan rimpang-rimpangan, jadi untuk memudahkan saya simpan semua yang dibutuhkan di lemari nomor 2 ini.


Lanjut di lemari terakhir nomor 3, sebelumnya juicer dan bahan makanan seperti tepung, almond dan kacang mede ada disini. Sekarang saya tata sebagai tempat menyimpan madu, minyak, sirup minuman disini. Lalu printilan mandi saya simpan di kotak warna hijau. Saya juga beli rak kecil untuk menaruh mug, teko (untuk membuat teh dan kopi), serta alat takar dll disini. Setelah ditata begini bisa muat lebih banyak dan lebih rapih.


Terakhir saya membeli rak dari rotan ini, untuk menyimpang bawang-bawangan, buah-buahan dan telur disimpan disini dan tidak di kulkas lagi. Jika berbicara masak-memasak sudah tentu akan ada sisa konsumsi. Sementara ini saya memilah sisa konsumsi organik dan non organik. Untuk sisa konsumsi organik saya membuangnya di komposter ember. Saya menggunakan 2 ember disini, yang satu sudah jadi tanah tetapi belum saya jemur. Satu lagi yang masih diolah sampai sekarang.


Nah seperti itulah kondisi dapur saya yang sekarang, berikutnya saya perlu mencari tau ilmunya bagaimana supaya "wellness in my kitchen" yang sesuai teori. Lalu kedepannya saya akan mencoba tiru dan modifikasi. Saya penasaran dengan metode Konmari™ cara berbenahnya bagaimana. Kebetulan saya itu suka beli buku, tapi banyak yang belum khatam bacanya. Ada juga yang masih tersegel rapih belum dibuka plastiknya. MasyaAllah ampuni hamba! Gimana hisabnya nanti dong ya. 



Ini lemari mini buku-buku saya, masih ada buku di lemari yang lain. Harus diagendakan beberes buku nih buat saya cari dan pilah lagi. Saya perlu mengumpulkan buku-buku yang akan saya pakai untuk menunjang belajar menjadi ahli gizi keluarga. Setelah dicari-cari ada 4 buku ini yang perlu saya selesaikan membaca sampai pekan ke-2 mendatang. Kemudian saya akan list keluhan apa yang saya alami, lalu membuat list kekhawatiran apa yang saya rasakan sekarang.



   


Gambar diatas adalah 2 jurnal kegiatan yang saya lakukan di minggu pertama ini. Beberapa hal sudah saya catat untuk dilakukan di minggu ke 2 berikutnya. Demikian jurnal pekan 1 saya di tahap "Screening", semoga ada insight baik yang bisa diambil dari tulisan saya ini. Selamat metamorfoself ya teman-teman.






























  • Share:

You Might Also Like

2 Comments

  1. Masyaa Allah, jadi tergiur belajar berbenah dapur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk cobain mba, setelahnya bikin mood happy lho..

      Hapus