Telur Hijau yang Berubah Menjadi Merah

By i k k a r f - Januari 19, 2021

#institutibuprofesional


Di Fase telur hijau, saya mendapat 5 kegiatan suka dan bisa yaitu masak, berkebun, diy (bebikinan homemade personal/skin care), design dan literasi. Fase berikutnya adalah telur merah, ada 2 tugas di fase ini. Pertama, saya harus membuat list keterampilan penting yang perlu dipelajari untuk menunjang aktifitas suka dan bisa. Kedua, saya harus melihat ada pengganggu apa pada aktifitas bisa suka ini yang perlu diselesaikan. Wah kalau sudah bingung begini saatnya ambil kompas dalam ransel. Kompas ini adalah "strong why" saya untuk menjelajah hutan kupu-kupu ini dengan bahagia.

Saya akan membagikan "strong why" saya kepada teman-teman. Jadi begini ceritanya, keseimbangan hormon tubuh saya kurang baik apalagi punya riwayat kesehatan keluarga yang kurang baik. Salah satu contohnya, bapak meninggal karena cancer (penyakit turunan/degeneratif disease). Sebelum menikah saya pernah operasi kista coklat yang sudah besar (kurang lebih 9-10 cm), setiap menstruasi kesakitan parah sampai mengganggu aktifitas. 

Selain itu saya mengalami infertilitas, pernah sekali hamil tetapi harus kuret karena Blighted Ovum (janin tidak berkembang). Oleh sebab itu saya ingin memasukkan "sesuatu" yang halal dan thoyib, baik itu dari makanan, skincare, personal care ke tubuh saya yang halal dan thayib. Sedikit banyak saya belajar tentang holistic cares. Sebaiknya "strong why" itu ingin merubah diri sendiri dulu, jika alasannya ingin merubah orang lain akan lebih terasa berat. Saya percaya bahwa berubah itu mengubah.

Dari hal tersebut saya memilih salah satu aktifitas yang mendukung strong why saya yaitu masak. Hal ini juga didukung suami, sebab beliau ingin saya masak setiap hari. Saya sudah melakukan tetapi kurang istiqomah, sebab saya merasa tidak "bebas" berkreasi. Suami dan keluarga kurang familier dengan konsep "holistic cares", perlu adanya edukasai yang tidak sebentar dan juga kesabaran untuk bisa satu visi misi. 

Semenjak bapak meninggal, suami memutuskan untuk kami menemani ibu. Akhirnya sejak usia pernikahan kami yang ke-3 memilih untuk tinggal di rumah orang tua saya sampai sekarang.  Serumah dengan orang tua yang sudah lansia (baik orang tua sendiri atau mertua) haruslah belajar management emosi (sedikit banyak saya mempelajari tentang geriatri). 

Kendala berikutnya adalah bisa istiqomah untuk memasak setiap hari, alasannya karena kesibukan. Saya seorang karyawan dan buka usaha juga di rumah, jadi saya perlu memperbaiki management waktu saya. Ada istilah False celebration, it's ok to make mistake as long as we learn from the mistake. Dari kesalahan tadi, akhirnya memahami bahwa saya akan semangat masak jika sudah membuat menu yang jelas, foodprep, dan menata dapur agar lebih nyaman.

Lalu bagaimana dengan ke-4 aktifitas suka dan bisa saya?? Disini saya akan menceritakan benang merah dari semua aktifitas yang disuka dan bisa. Saya suka berkebun, khususnya tanaman yang bisa di masak menjadi makanan yang halal dan thayib (from garden to table). Saya suka dengan prinsip permakultur untuk menunjang aktifitas berkebun saya. 

Membuat personal dan skin care sendiri juga salah satu aktifitas yang membuat berbinar. Senang sekali akhirnya tidak tergantung dengan "pasar", itu juga mengurangi jejak karbon dan sisa konsumsi (sampah) dari limbah plastik (zero waste). Hal ini berhubungan dengan management dapur, ingin lebih sustainable daripada instagramable. 

Literasi dan design, ini adalah salah satu hal yang membuat saya berbinar. Saya suka melihat vlog dari haegreendal, liziqi, meaningful minimal, cerita himalaya, dst. Vlog yang tidak perlu menampakkan wajah tetapi fokus menyorot kegiatan sehari-harinya yang penuh insight. Semoga kedepannya saya bisa membuat vlog aktifitas saya sehari-hari juga dengan design dan literasi yang apik.

Saya teringat salah satu insight yang didapat setelah menonton vlog cerita himalaya. Ketika dia membaca buku yang berjudul zero to one, berbagi insight mengenai perbedaan horizontal dg vertical intensive progress. Kalau kita melakukan kebiasaan secara mengulang-ulang tanpa ada tantangan itu berarti kita sedang menjalankan horizontal extensive progress. Sedangkan kalau kita menjalankan hal baru, dan bahkan merasa sulit untuk dilakukan tetapi berusaha semangat untuk terus mencoba bahkan sampai ahli itu berarti kita sedang berada di posisi vertical extentive progress. Wah ini yang sedang saya coba lakukan sekarang, belajar untuk menjadi profesional. Berikut ini hasil googling saya : 


Biar semangat, saya coba mendesign kartu identitas untuk saya bagikan di masa depan. Saya ingin dikenal menjadi "holistic nutritionist" (ahli gizi holistik keluarga). Yaa.. tidak hanya sekedar memasak untuk keluarga, tetapi bisa menjadi ahli gizi dengan membuat menu sehat yang halal dan thayib. Ilmu dengan praktek akan lebih mumpuni untuk dibagikan ke khalayak umum. Sebab kita bisa menceritakan pengalaman trial eror kita ketika membuat menu, cara masaknya dan juga bagaimana management emosinya diri sendiri serta anggota kelurga kita. Amin! Bismillah! Semoga Allah meridhoi ikhtiar saya.




Dari yang sudah saya jelaskan diatas, berikut ini adalah tabel penting dan mendesak saya :
1. Management emosi
2. Management dapur
3. Management waktu
4. Belajar tipe pencernaan (usus) yang sehat
5. Belajar membuat menu sehari-hari halal dan thoyib

Berikutnya tabel penting dan tidak mendesak yaitu design (illustrator, vlogger), literasi (menulis buku, story telling melalui vlog, story telling di podcast). Template-nya udah buat, tetapi belum jadi hal yang mendesak untuk berbagi tentang masak dan ahli gizi. Semoga kedepannya tiba di fase ini dan bisa berbagi sesuai pengalaman yang sudah saya lakukan kelak. Tentang berkebun sesuai prinsip permakultur juga masih bisa ditunda untuk diperdalam. Saya sudah mulai berkebun dan sedikit mempraktikkan prinsip permakultur. Sekarang masih bisa panen hasil kebun yang sudah ada aja dulu atau belanja ke pasar. Sambil mengamati dan mengeksplore "pasar sehat" di Jember, belanja ke teman-teman terdekat dulu.





Berikutnya tabel tidak penting dan tidak mendesak yaitu menonton vlog aesthetic berhubungan dengan perdapuran, minimalist dll. Jujur hal ini membuat saya berbinar, dan banyak mendapat insight dari vlog tersebut. Tetapi hal ini dibarengi juga hasrat ingin membeli barang yang kurang penting. Oleh sebab itu mengalokasi waktu nonton ke kegiatan yang menunjang tabel penting dan mendesak. 

Tabel berikutnya tidak penting dan mendesak, belanja alat dapur yang diinginkan. Masih berhubungan dengan ke-BM-an (Banyak Mau) saya. Ada list alat dapur seperti slowcooker, dan alat penggorengan dari granit. Tetapi melihat barang di rumah masih bisa disiasati dan dipakai dulu. Semoga kalau sudah ada dananya bisa beli (tetapi harus memegang prinsip satu barang masuk harus ada satu barang yang keluar).



Naah, akhirnya teman-teman sekarang sudah tau ya kelima telur merah apa saja yang saya fokuskan untuk lebih terampil lagi. Management dapur, emosi, waktu, belajar type healthy gut dan belajar membuat menu sehari-hari yang halal dan thoyib ala saya. Demikian cerita dari saya, kalau teman-teman apa 5 telur merahnya? Boleh share di komen bawah yaa. Semoga kelima hal tersebut terhitung pahala dan proses teman-teman untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada kemarin. Amin!




  • Share:

You Might Also Like

0 Comments