Fase Telur - MESTAKUNG !

By i k k a r f - Januari 14, 2021

 #institutibuprofesional

#hutankupucekatan

#telurhijau

#lacakkekuatanmu


Adakah yang tidak tau arti "mestakung"? Jika jawabannya iya, mari ijinkan saya untuk menjelaskan sedikit mengapa saya membuat judul tersebut di tulisan ini. Kemarin senin tanggal 11 januari 2021, dimulailah kelas bunda cekatan. Anda yang setia membaca blog saya akan tau kelas apa yang sedang saya ikuti. Yap! Saya ikut komunitas Ibu Profesional, sebelum bergabung di komunitas ini diharapkan para membernya mengikuti kelas Matrikulasi. Kelas ini dilakukan untuk menyamakan visi misi para ibu-ibu yang ingin profesional menjadi seorang perempuan. Tetapi saya tidak membahas detil tentang ini, saya sudah menuliskan tugas kelas matrikulasi di blog saya ini. Silahkan scroll dan selamat membaca.

Setelah selesai mengikuti kelas matrikulasi sampai tuntas, resmilah saya menjadi member komunitas Ibu Profesional. Kemudian saya lanjut mengikuti jenjang perkuliahan selanjutnya yaitu kelas bunda sayang. Alhamdulillah setahun mengikuti kelas bunda sayang-pun saya selesaikan sampai tuntas (tugas-tugasnya ada di blog ini juga). Nah, kalau dimisalkan matrikulasi itu SD, kelas bunda sayang itu SMP, kali ini-pun saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan waktu untuk saya melanjutkan ke jenjang SMA (kelas Bunda Cekatan, disingkat Buncek). Meskipun hampir saja saya gagal masuk ke kelasnya, gara-gara teknis. Saya belajar teknis baru, mulai tahun 2020 Ibu Profesional upgrade jadi lebih "bahagia" lagi. Kalau sebelumnya materi dan kelas semua di Whatsapp grup, kali ini semua materi dan kelas via Facebook grup.

Disinilah saya, mendengarkan materi oleh kunang-kunang (dahulu disebut fasilitator) melalui Facebook grup yang disebutnya Hutan Kupu-Kupu. 




Kelas Buncek kali ini harapannya pembelajar di Buncek berproses dari telur menjadi kupu-kupu yang cantik nan unik (in process to be a Butterfly). Bagi saya perkuliahan kali ini sangat spesial, kalau dulu ikut kelas IP tapi juga nyambi kelas online lain juga (sangat multitasking dan hectic). Baru tahun ini ingin fokus satu kelas dan benar-benar belajar mindfullnes (bite at a time). Semenjak saya lulus kuliah 2014 dan menikah tahun 2013, rasa ingin tau saya tinggi. Jadilah sejak tahun 2015 mencari ilmu mulai dari offline sampai online, beragam "ilmu" dipelajari dan di tahun 2020 saya merasa "burnout". Terlalu banyak ilmu tetapi kurang fokus. Tanpa disadari saya "lalai" ke keluarga, terlalu sibuk mengambil peran di luar dan mencari jati diri, potensi diri dan mencari tau "siapa saya?"



Materi yang disampaikan oleh Fasilitator kami mbak Rim-rim di tahapan telur ini sangat "relate" dengan yang saya alami saat ini. Salah satu quote mbak Rim-rim yaitu, "Disadari atau tidak, denyut nadi keluarga ada pada ibunya, jika ibunya bahagia, 1 keluarga akan bahagia. Jika ibu tidak bahagia yang terjadi sebaliknya." Lalu saya bertanya ke diri saya sendiri, sudahkan saya bahagia? sudahkah keluarga saya bahagia? 

Mari kita cerita apa definisi bahagia bagi saya sesungguhnya adalah Allah ridho atas diri saya. Menurut saya ridho Allah adalah ridho suami dan orang tua. Selama pandemi di tahun 2020 saya belajar mengenal diri saya sendiri, yang ternyata diri saya adalah bukan milik saya. Ini sangat filosofis dan "sangat dalam" bisa sampai di titik ini. Penguatan "strong why" salah satu cara untuk bisa dengan tegas menjawab definisi bahagia saya ini. Blog berikutnya akan saya ceritakan lebih banyak tentang "strong why" ya.

Lalu di hari kedua, fasilitator menjawab pertanyaan dari para pembelajar di Buncek ini satu per satu. Semakin terbuka dan jelas pikiran saya. Pembelajar haruslah fokus, apa yang saya butuhkan dan saya perlukan saat ini (living in the present moment)? Saya tersenyum ketika mendengarkan hal ini. Seolah Tuhan sedang membantu saya untuk belajar fokus sampai profesional di bidang yang sudah saya pilih saat ini. Hidup di hari ini, tanpa mengkhawatirkan masa depan maupun trauma akan masa lalu.

Sangat kebetulan, saya sudah memilih untuk seleh dari kepengurusan semua komunitas yang saya ikuti. Saya juga sudah ingin "membatasi" diri untuk ikut kelas online yang masa belajarnya lama (lebih dari sehari). Saya ingin fokus ke keluarga (birrul walidain). Jika boleh mengutip kata almarhum Syekh Ali Jaber, kita sedang berjalan dari takdir yang satu ke takdir yang lain. Bisa jadi kedepannya sudah beda lagi fokus saya. Jadi, belajar untuk fokus dan menuntaskan apa yang dihadapi saat ini dengan mindfullness.




Saya mulai mencari tau, apa yang bisa dan tidak suka, apa yang bisa dan saya suka, apa yang tidak bisa dan tidak suka, dan apa yang tidak bisa dan saya suka. Hasilnya seperti yang terlihat di gambar. Menjawab ini penuh perenungan dan meditasi. "Jan-jane opo sing tak senengi, opo sing ora tak senengi" tidak semudah membagi 2 warna, hitam atau putih. Kebanyakannya masih abu-abu, nggak yang hitam banget tapi juga nggak putih banget. Pastinya banyak yang belum "muncul" di dalam diri saya. Satu yang pasti, saya sudah tau dan yakin, saat ini apa yang saya butuhkan dan perlukan. 





Inilah ke-5 kekuatan saya saat ini, dan sedang saya lakukan sekarang. Saya berbinar dan senang, ketika ibu dan suami saya sangat suka dengan masakan saya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam ketika berkebun. Apalagi ketika benih yang saya tanam tumbuh, dan hasil panennya dimasak di dapur tercinta. Saya suka ketika berhasil bebikinan (DIY) membuat sabun alami, deodorant alami untuk saya pakai sehari-hari. Saya suka design membuat handlettering dan menggambar (masih belajar sampai saat ini). Terakhir saya suka menulis (literasi), seperti sekarang ini. Masih jauh dari enak dibaca, tetapi tantangan untuk mengerjakan NHW melalui tulisan blog ini, melatih saya untuk lebih baik lagi "story telling"-nya.

Mengapa saya yakin dengan kelima-nya ini? Saya dapatkan dari hasil "learner" selama 6 tahun belajar ini itu sampe "burnout". Selain itu hasil dari komunikasi produktif dengan suami, apa yang dia suka dan tidak suka. Ternyata "ujian" tidak melulu tentang sedih, tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil. Jika kita mau berfikir tentang hikmahNya. Allah saja mengulang sampai 2 kali, bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Kalau kalian apakah sudah menemukan apa yang menjadi potensi dirimu?







  • Share:

You Might Also Like

0 Comments