Game Level 8 Day 4

By i k k a r f - November 24, 2019

#hari4
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#gamelevel8
#cerdasfinansial

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh..

Bismillahirrahmanirrahim..

Hari ini saya ingin berbagi cerita terkait poin : "hak sendiri di masa sekarang" saya membaginya menjadi 2 yaitu konsumsi dan lifestyle. Setelah saya ikut kelas online nya mbak dini "belajar zero waste" jadi membuka pikiran saya tentang konsumsi dan lifestyle. Berikut gambarnya:

Dari gambar ini saya belajar tentang hirarki kebutuhan pembelian, di rumah banyak sekali tas dengan berbagai macam model dan warna, demikian juga dengan pakaian. Pada kelas belajar zero waste saya tidak malu untuk membeli barang bekas layak pakai jika itu benar-benar saya butuhkan. Hal ini dapat memperpanjang waktu barang tersebut sampai tidak bisa dipakai lagi. Selama ini kita lupa menumpuk barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, padahal fungsinya sama dengan barang yang kita miliki di rumah. Padahalkan setiap barang ada hisabnya, masyaallaah.. berapa barang yang tidak pernah saya pakai sama sekali selama 1 bulan terakhir? Jawabnya banyak! Saya perlu cari tau tentang ini, apakah barang yang seperti ini perlu dizakati atau tidak (insyaallah next blog).



Saya termasuk orang yang kepengenan, apalagi ada barang 'lucu' udah deh langsung ambil (selama bawa duit di dompet ya). Sekarang banyak sekali pertimbangannya, selain hisab juga kalau terlalu banyak barang ga dipake jatohnya jadi sampah kan? Jadi saya setiap kepingin barang atau sesuatu akan melakukan prinsip pemikiran seperti gambar ini. Apakah saya membutuhkan ini? Jika itu barang apakah saya punya barang yang fungsinya sama dengan barang yang saya inginkan ini? Kalau bisa DIY atau memungkinkan buat minjem atau sewa barang ini memungkinkan kah? Hal ini ngaruh sekali akhirnya di pengeluaran konsumsi dan lifestyle saya. Saya lebih memilih memasak, membuat sabun dan shampoo sendiri di rumah (ini karena saya mengurangi zat kimia masuk ke tubuh saya).

Dari prinsip ini saya belajar sehat jasmani dan rohani, terlalu banyak barang tidak dipakai membuat pikiran jadi tidak tenang. Saya juga mulai belajar minimalis, sederhana seperti Rasulullah, meskipun masih bertahap dan berproses. Alhamdulillah sudah ada progres meskipun hanya 10%, tantangan berikutnya adalah suami dan ibu (karena saya tinggal bersama ibu saya). Saya berusaha mengingatkan agar benar-benar membeli yang sangat dibutuhkan. Pernah suatu kali saya bertanya ke suami, kenapa membeli sepatu banyak sekali? Dia menjawab dengan santai, nanti bakal dikasih ke temannya yang sudah membantunya di komunitas paskibraka-nya. Hmmm.. boleh juga pemikirannya, atau itu jawaban ngelesnya ya? Hehe.. Semoga kedepannya kita jadi lebih banyak sedekah dan manfaat untuk orang lain yaa. Beberapa barang saya juga ada yang sudah saya berikan ke beberapa teman. Saya berusaha one in, one out. Misalnya, saya membeli 1 pakaian maka saya harus memberikan 1 pakaian saya ke orang lain.

Dari pemikiran diatas, alhamdulillah saya bisa mengurangi konsumsi belanja-belinji. Nanti saya coba menerapkan prosentase yang sudah saya bagi-bagi setiap pos di blog saya sebelumnya. Apakah ada sisa atau malah kurang? ini akan mempengaruhi prosentase pos keuangan kedepannya, hal ini akan saya coba selama 100 hari (kuranga lebih 3 bulan, berarti 3 kali gajian). Menurut Charles Duhigg, penulis buku 'The power of Habits', ada 3 komponen dari kebiasaan yakni cue/reminder, routine, dan reward. Misalnya, ketika ditelusuri lebih jauh kebiasaan makan jajanan pinggir jalan (gorengan, cilok, seblak dll) kita lakukan saat merasa stress. Usaha kita untuk menghilangkan kondisi stress (cue/reminder), dengan konsumsi jajanan pinggir jalan (routine), dan setelah puas makan makanan tidak sehat tersebut (reward). A habit doesn't dissappear, it's replaced! Cara untuk mengganti kebiasaan ini adalah dengan merubah rutinitasnya, buat action plan! Reminder; ingin hidup sehat dengan memakan makanan yang sehat,  rutin menjalankan plan meal (selama jangka waktu tertentu), rewardnya jadi sehat.

Tidak jarang, we are tempted to break the new habit. Kita bukanlah sebuah robot dan terkadang kita tergelincir. Tetapi kita akan tetap melanjutkan atau tidak usaha kita adalah sesuatu yang akan menentukan kebiasaan tersebut akan berlanjut atau tidak. Penelitian dari University of College London menunjukkan jika waktu yang dibutuhkan untuk membuat kebiasaan baru bervariasi, dimulai dari 20 hari, 50 hari hingga 254 hari dengan rata-rata 66 hari. Apa yang menentukan lamanya tersebut adalah kesulitan dari sebuah kebiasaan tersebut. Sebaiknya lakukan perubahan 1 habit saja sampai selesai dan berhasil baru ganti ke habit berikutnya, agar lebih fokus. Mungkin 14 hari pertama akan terasa berat, tetapi berikutnya akan terasa mudah. "We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act but a habit." Aristoteles. Jadi evaluasi kembali kebiasaan konsumsi dan lifestyle saya dulu, cari apa yang akan diubah kebiasaannya. Insyaallah akan mendapat reward pencapaian yang diinginkan.

Demikian kurang lebihnya mohon maaf, semoga ada ibroh atau manfaat dari tulisan saya ini.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Source :








  • Share:

You Might Also Like

0 Comments