Aliran Rasa Matematika Logic

By i k k a r f - September 24, 2019



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah..

Kita tidak akan terlepas dari matematika dalam kehidupan sehari-hari, misalkan saja bagaimana memperhitungkan jumlah air yang ditambahkan ketika memasak nasi, membagi roti yang ada untuk semua anggota keluarga agar mendapat besaran yang sama, dll. Jika dipikir-pikir matematika itu susah dan membosankan, tetapi jika kita mengemas dengan gaya belajar yang sesuai dengan diri kita maka belajar matematika itu menyenangkan. Diharapkan rasa senang itu muncul dan belajar dalam suasana hati bahagia itu akan terasa mudah. 

Tantangan selama 15 hari sudah saya lalui, saya berfikir hari ini saya menghitung apa, belajar matematika apa. Tak jarang saya kebingungan, aktifitas saya yang mana nih yang masuk ke dalam matematika logic. Semakin dewasa ternyata matematika itu tidak sekedar angka, ternyata menyimpulkan suatu masalah atau mencari solusi dalam suatu perkara itu dibutuhkan matematika logic. Kita dihadapkan dengan logika, jika saya begini maka saya begitu dan jika saya begitu akan begini. Lalu diantara 2 pilihan itu manakah yang baik untuk saya pilih. Karena kita selalu dihadapkan dengan banyak pilihan-pilihan hidup, maka kita perlu berlogika menimbang dan menghitung baik dan buruknya, manfaat dan mudharatnya.

Jika sudah berfikiran ke arah sana, sudah pasti kita akan mengingat Tuhan. Ketika kita melakukan segala sesuatu sesuai tuntunan Allah swt, maka konsep tentang Tuhan identik dengan konsep matematika. Keduanya itu bersifat metafisis karena keduanya berada diluar pengalaman dan abstrak. Namun, sifat abstrak dari keduanya justru menandaskan bahwa mereka sesungguhnya ADA. Objek metafisis harus dipahami dengan menggunakan media logika murni dengan tujuan agar supaya sifat abstrak yang dimilikinya dapat diwujudkan menjadi pengalaman empiris yang konkrit. Contohnya : untuk mengetahui nama bandara Frans Kaisepo yang berada dipulau Biak, seseorang paling tidak harus menghafalkan nama bandara itu pada pengalamannya. Nama bandara itu tidak ada secara konseptual di dalam pikirannya, selain ia harus menghafalkannya di dalam suatu kesempatan pengalaman hidupnya. Sebaliknya, konsep tentang Tuhan sebagaimana halnya konsep matematika keduanya tidak diperoleh melalui pengalaman, selain hanya merupakan intuisi yang memang telah dimiliki oleh pikiran yang sejak semula sudah ada. Contohnya : dia tau ada ayam berwarna putih dan merah milik ibunya, bila yang dilihatnya hanya 1 ekor ayam berwarna putih, biasanya dia akan celingak-celinguk untuk mencari tau dimana ayam yang satunya lagi yang berwarna merah. Meskipun dia belum bersekolah ternyata dia paham bahwa keberadaan 1 unit berbeda dengan 2. 

Dengan penjelasan ini, yang menjadi pertanyaan terbesar kita kemudian adalah, apabila konsep matematika itu dapat dibuktikan dengan lahirnya ilmu konkrit seperti Aljabar, Aritmatika, Geometri dsb, lalu bagaimanakah caranya mengkonkritkan konsep tentang Tuhan? Apakah agama adalah salah satu cabang ilmu yang berupaya membuat Tuhan menjadi konkrit? 
Kembali lagi, ini tentang rasa dan hanya beberapa orang saja yang Allah beri hidayah dan memahami hikmah dari apa yang manusia logikakan, dan seberapa besar keimanan seseorang terhadap Tuhannya.

Demikian kurang lebihnya mohon maaf, semoga ada ibroh atau manfaat dari tulisan saya ini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Source :

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments