Game Level 3 Day 6

By i k k a r f - Juni 19, 2019

#hari6
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kelasbundasayang
@institut.ibu.profesional

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah..

Hari ini tepat rabu semangat, saya akan membagikan oleh-oleh dari kelas kami. Pas banget sebagai renungan tugas saya hari ini :


Alhamdulillaah saya "lumayan" bisa mengelola emosi saya hari ini kepada suami. Saya merasa senang dan bangga. Meskipun masih perlu banyak berlatih lagi, menurut saya hal ini merupakan pencapaian kenaikan tingkat kecerdasan emosional yang sangat baik. Tugas ini benar-benar menantang diri saya sendiri untuk extra sabar, dan bersikap rendah hati. Setelah kemarin saya belajar tentang 4 sikap yang menghancurkan pernikahan, saya mengevaluasi diri terhadap sikap saya selama ini sebagai istri ke suami. Saya mengakui saya sudah banyak melakukan kesalahan, dan saya hampir saja menghancurkan pernikahan saya. Oleh sebab itu saya ingin memperbaiki diri. Menurut mbak okina fitriani kita perlu menemukan ramuan antidotnya, berikut saya menyimpulkan dari beberapa artikel mbak okina dan materi kelas bundsay versi saya :
1. Ketika ingin Clear n Clarify cari timing yang tepat untuk mengutarakannya, jika salah mencari waktu yang pas untuk berbicara yang ada kita akan tidak mendapatkan jawaban yang "sebenarnya", yang ada akan saling bertengkar dan mencari-cari pembenarannya sendiri.
2. Jika sudah menemukan waktu yang tepat, berikutnya berbicaralah dengan menjadi detektif kebaikan, stop labelling, apalagi pakai kata-kata yang merendahkan. Pemilihan kata-kata yang tepat akan mendapatkan jawaban dari lawan bicara kita secara jujur.
3. Menjadi pribadi penuh empati dan mudah minta maaf lalu perbaiki diri, perlu pasangan yang mempunyai visi yang sama. Jika pasangan kita tidak seperti itu, jualan dulu, supaya visi kita dibeli susun strategi dan cara jualan yang cantik (butuh banyak latihan dan skill).
4. Jika ingin menasehati pasangan harus punya niat bersama-sama menuju ketaatan dan meraih ridho Allah bukan semata-mata nafsu ingin dituruti.
5. Menjadi contoh perilaku yang kita nasehatkan itu, dan bersedia juga dinasehati.
6. Respect, melakukan dengan rasa hormat dan kesantunan. Jika Nabi Musa AS saja diperintahkan untuk menasehati Firaun dg cara yang baik, masa sih pasangan kita tidak lebih baik daripada Fir'aun.
7. Hasil bukan milik kita, hasil itu milik Tuhan. Tugas manusia menggenapkan berikhtiar semaksimal mungkin, dan jangan pernah putus untuk selalu berdoa.
8. Jika tidak tau mau ngomong apa atau takut konflik ya peluk aja dulu, minta maaf, pegang tangannya dan sampaikan ke pasangan "beri waktu aku berpikir ya, aku bingung mau ngomong apa". Kalau sudah siap untuk clear and clarify lanjut ke nomor 1.

Rumus diatas saya lakukan hari ini ke suami saya, ada hal yang membuat saya sedih di pagi hari dari sikap suami tetapi saya menahannya sampai malam hari (menunggu timing yang tepat). Selama waktu menunggu tersebut saya berusaha mengelola emosi saya, hal ini membuat saya mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya selain itu berani keluar dari zona nyaman. Biasanya saya orang yang meledak-ledak, butuh jawaban saat itu juga, tetapi setelah belajar materi diatas saya mencoba tenang. Dimasa tenang ini jangan harap langsung berubah 180 derajat, saya masih overthinking sempat negatif thinking juga ke pasangan. Tetapi saya mencoba mengalihkannya dengan ambil nafas panjang, mengganti pikiran buruk dengan memperbanyak istighfar. Jika stress begini sudah pasti mengganggu sistem reproduksi saya, dan benar saja saya mengalami flek. Masih perlu banyak latihan lagi dalam hal ini.

Ketika suami sudah pulang kerja, saya melakukan poin nomor 2. kata pertama mengungkapkan rasa kita, kemudian inti pembicaraan, dan ditutup dengan sugesti positif, "saya sedih mas, coba jelaskan tentang hal ini.., saya harap mas jujur karena rumah tangga yang harmonis didasari dengan saling jujur satu sama lain." Alhamdulillah respon suami juga tenang, dia menjelaskan dengan tenang. Berbeda dengan dulu, saya bertanya sambil mengungkit masa lalu, berprasangka akhirnya pasangan akan marah dan komunikasi tidak produktif. Saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya, karena diam memendam sesuatu akan tidak menyelesaikan masalah sebaiknya lakukan komunikasi produktif. Ujung-ujungnya sempet kebawa nafsu, kok gini kok nggak gitu bertanya pada suami. Untungnya suami masih tenang menanggapinya, saya lupa memberikan pujian atas kejujurannya. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Pada akhirnya saya harus bertanggungjawab atas apapun reaksi dan hasil jawaban dari suami saya. Kembali lagi ke poin nomor 7, hasil bukan milik kita hasil itu milik Tuhan. Meski jawabannya sedikit membuat baper tetapi saya bersyukur suami sudah mau tenang dan jujur dalam menjawab. Selanjutnya selalu doakan suami disepanjang waktu agar selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Demikian kurang lebihnya saya mohon maaf, semoga ada ibroh atau hikmah dari tulisan saya ini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Source :
tim kelas bundsay batch 5 institut ibu profesional





  • Share:

You Might Also Like

0 Comments