Game Level 3 Day 2

By i k k a r f - Juni 14, 2019

#hari2
#gamelevel3
#tantangan10hari
#myfamilymyteam
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Bismillah..

Hari ini saya ingin menjelaskan secara teori mengapa saya memilih kecerdasan emosional untuk saya jadikan project family. Sebelumnya saya juga melihat bagaimana kondisi keluarga saya saat ini. Menginjak tahun ke 5 pernikahan kami, banyak sekali tantangan yang kami hadapi. Hal ini sangat mempengaruhi emosional kami berdua. Di tahun ke 6 pernikahan kami ini, saya ingin memperbaikinya dengan dimulai dari mengasah kecerdasan emosional kami. Mengutip dari quote pak dodik, "bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu". Hal ini benar adanya, ketika rumah tangga kami goncang emosi negatif keluar sudah pasti otomatis akan berhubungan dengan emosi kita ke orang lain juga tidak baik. Atas dasar itulah saya ingin mengasah kecerdasan emosional kami berdua, jika sudah lebih baik maka akan keluar dengan emosi yang baik pula.



Seorang ahli kecerdasan emosi, Goleman (2000) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi di dalamnya termasuk kemampuan mengontrol diri, memacu, tetap tekun, serta dapat memotivasi diri sendiri. Kecakapan tersebut mencakup pengelolaan bentuk emosi baik yang positif maupun negatif. Goleman (2001) juga mengatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan, sehingga kecerdasan emosi sangat diperlukan untuk sukses dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang menonjol dalam pekerjaan.

Komponen-komponen dasar kecerdasan emosional adalah :
1. Kemampuan mengenali emosi diri sendiri (kesadaran diri).
2. Kemampuan mengelola emosi.
3. Kemampuan memotivasi diri sendiri (motivasi).
4. Kemampuan mengenali emosi orang lain (empati). 
5. Membina hubungan dengan orang lain (keterampilan sosial).

4 Hal dalam hidup yang bisa berantakan tanpa EQ (kecerdasan emosional) :
1. Kinerja anda 
2. Kesehatan fisik anda
3. Kesehatan mental anda
4. Hubungan anda dengan orang lain

6 kunci untuk meningkatkan EQ :
1. Mengurangi emosi negatif, mengubah perasaan negatif tentang suatu situasi pertama-tama kita harus mengubah cara berpikir kita tentang hal tersebut. Misalnya cobalah agar tidak mudah berprasangka buruk terhadap tindakan orang. Ingat, mungkin saja ada maksud baik di balik tindakan mereka.
2. Berlatih tetap tenang dan mengatasi stres, bagaimana kita mengatasi stress ini akan mempengaruhi EQ (apakah kita akan bersikap asertif, atau reaktif? tetap tenang atau kewalahan?). Saat berada dalam tekanan, hal paling penting untuk diingat adalah menjaga diri tetap tenang. Misalnya dengan membasuh wajah dengan air atau olahraga untuk mengurangi stres (setiap orang mempunyai caranya sendiri, tidak ada patokannya).
3. Berlatih mengekspresikan emosi yang tak mudah, ada masa dalam kehidupan kita untuk membuat batasan sehingga orang lain tahu dimana posisi kita. Hal ini bisa mencakup :
  • Memberanikan diri untuk tidak sependapat dengan orang lain (tanpa bersikap kasar).
  • Berkata "tidak" tanpa merasa bersalah.
  • Menetapkan prioritas pribadi.
  • Berusaha mendapatkan apa yang berhak kita dapatkan.
  • Melindungi diri sendiri dari tekanan dan gangguan.

4. Bersikap proaktif, bukan reaktif, saat berhadapan dengan orang yang memicu emosi kita, kebanyakan orang pasti pernah dihadapkan pada orang yang menyebalkan atau mempersulit hidup. Kita mungkin akan "terjebak" dengan orang seperti ini, sangat mudah untuk membiarkan orang seperti ini mempengaruhi kita atau merusak hari kita. Cobalah menenangkan diri dulu sebelum kita berbicara dengan orang yang sering memicu emosi negatif diri kita, terutama ketika kita merasa marah. Kita juga bisa mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang tersebut. Namun demikian, berempati bukan berarti mentoleransi perilaku yang tidak pantas. Kita tetap perlu menekankan bahwa ada konsekuensi untuk segala hal.
5. Kemampuan untuk bangkit dari kesulitan, hidup tidak selalu mudah, bagaimana kita memilih untuk berfikir, merasa dan bersikap saat dalam situasi sulit, sering kali bisa menentukan apakah kita akan terus punya harapan atau malah putus asa. Dalam sutuasi sulit yang kita jumpai, coba ajukan pertanyaan seperti :
  • "Apa pelajaran yang bisa diambil di sini?"
  • "Bagaimana saya bisa belajar dari pengalaman ini?"
  • "Apa yang paling penting sekarang?"
  • "Jika saya berpikir dengan cara yang berbeda, apa ada jawaban yang lebih baik?"

Semakin tinggi kualitas pertanyaan yang kita ajukan, semakin baik pula jawaban yang akan kita dapatkan. Ajukan pertanyaan yang membangun berdasarkan proses belajar dan prioritas, dan kita bisa mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk membantu kita mengatasi situasi yang sedang dihadapi.
6. Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dalam hubungan pribadi, kemampuan untuk mengungkapkan emosi penuh kasih sayang sangat penting untuk mempertahankan hubungan pribadi yang erat. Emosi ini dapat tersampaikan melalui perkataan, bahasa tubuh dan perilaku. Misalnya melalui kontak mata yang positif, senyum, mendengarkan dengan empati atau sekedar menawarkan makanan. Kita tak hanya harus bisa berbagi perasaan mendalam dengan orang lain dalam hubungan pribadi kita, namun kita juga harus bisa merespon dengan positif saat orang tersebut mengekspresikan emosi yang mendalam kepada kita.

Dari materi diatas saya merasa tepat untuk memilih KEF project sebagai tugas kelas bunda sayang kali ini. Seperti yang sudah saya paparkan diatas saya ingin membuat kondisi rumah lebih nyaman, dan kami suami istri sebagai "rumah" tempat saya atau suami saya kembali setelah mengahapi banyak tantangan dari luar. Tugas saya hari ini rencananya akan mempresentasikan project keluarga ini kepada suami, tetapi saya mencoba membaca situasi terlebih dahulu berusaha empati terhadap suami (menanyakan dalam diri, kira-kira jika saya memaparkan tugas ini apakah suami di posisi siap menerima pemaparan saya atau belum siap?).

Sepulang saya kerja, suami ternyata sudah di rumah dia sedang bermain handphone. Hari ini sesuai janji saya (subuh tadi) ke suami sepulang kita kerja saya akan menunjukkan tes bakat minat ke suami untuk dia kerjakan. Yang terjadi, suami mengeluh lapar dan ingin makan yang tidak bersantan (kebetulan di rumah masakannya kupat sayur), akhirnya saya mencoba tenang dan memasak sesuai rikues suami. Setelah selesai saya berniat untuk memanggil suami saya untuk makan, ternyata dia tertidur lama. Bangun tidur saya menanyakan apakah dia akan kerja malam ini, dan dia menjawab "iya". Setelah mandi, makan, seharusnya ini waktu yang pas untuk memaparkan tes bakat tetapi dia bermain handphone lagi sambil menunggu jam kerja dia. Akhirnya hari ini saya tidak jadi memaparkan tugas family project ke suami. 

Merasa gagal??? 

Lumayan membuat saya down, tetapi saya bangkit dari kegalauan saya. Apa yang perlu saya perbaiki hari ini?? Seharusnya saya segera sholat, bukan berlama-lama lihat youtube yang akhirnya kehilangan moment untuk berbincang saat suami lagi santai menunggu jam kerjanya. Semoga besok saya lebih bisa mengatur management gadget dan waktu. Tetapi saya bersyukur, saya berhasil mengasah kecerdasan emosional saya untuk tetap tenang meskipun keadaan tidak sesuai dengan apa yang saya targetkan.

Demikian tugas dari saya, kurang lebihnya mohon maaf. 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments