The Conclusion

By i k k a r f - April 12, 2019


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Bismillah..

#hari15
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Saya berniat untuk menyelesaikan tantangan tugas sampai hari ke 15 saja, mengingat besok saya akan sangat sibuk dan sepertinya lelah sepulangnya sampai rumah (antara sadar diri atau ...?! hehe). Hari ini saya ingin mengevaluasi komunikasi saya dengan suami, kebetulan juga ada yang ingin saya utarakan secara serius dengan suami. Alhamdulillah selama tantangan saya berusaha menerapkan semua kaidah yang diberikan saat kuliah bunda sayang, seperti yang saya rangkum di gambar atas. Kali ini di hari ke 15 menjadi challange untuk saya, karena saya akan menumpahkan uneg-uneg saya secara emosional. Mohon maaf tidak bisa saya share disini, tetapi akan saya paparkan beberapa gambarannya.

Saya memilih waktu sepulang saya kerja, kebetulan suami masih belum masuk kerja dan ketika saya pulang dia sedang menonton televisi serta tidak memegang hape-nya. Kesempatan ngobrol nih, tanda dia sedang senggang. Ternyata eh ternyata, entah saya yang nervous atau memang "panggilan alam", ga enak pas ngobrol kebelet ke belakang hihi jadi saya memilih untuk menyelesaikan "panggilan alam" tersebut. Saya sudah tenang, suami juga terlihat nganggur (hehe..) saya tanya sudah makan belum, masih ada yang sakit nggak, obatnya sudah diminum belum. Semua pertanyaan basa-basi saya sudah dia jawab semua. Saatnya clear & clarify, sambil duduk bersila di samping suami tidak lupa berbicara menatap mata lawan bicara. Semua sudah saya susun mau ngobrol apa saja dengan suami, seketika blank! Bingung mau mulai dari mana. Begini ya rasanya kalau mau ajak ngobrol pake emosional. Akhirnya saya awali dulu dengan bilang bahwa ini hari terakhir tantangan komunikasi produktif (dia lupaa, padahal hari pertama udah minta ijin dia. Omaigat), saya ingin mengevaluasi komunikasi kita sambil mau ada yang dibicarain serius (tapi kenyataannya yang ada muntahin semua uneg-uneg saya tanpa berfikir bagaimana hasilnya nanti, yang penting saya sudah mengeluarkan uneg-uneg saya sampai-sampai sangking emosionalnya saya menangis saat mengutarakan bagian-bagian yang bikin baper). Ketika emosi memuncak, kadang intonasi suara otomatis agak tinggi tapi saya berusaha menyampaikan dengan nada pelan sekiranya dia dengar, pemilihan kata-kata juga memilih yang baik menurut saya meski kadang bingung di awal terkesan seperti menyalahkan tapi cepat-cepat dirubah jadi kata-kata yang normal tanpa men-judge.

Seringkali ketika kita dikuasai emosi maka apa yang kita lakukan atau ucapkan menjadi diluar kontrol kita. Jelas-jelas ini adalah hal yang tidak kita inginkan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bisa-bisa saja kita berakhir mengucapkan atau melakukan hal-hal yang akhirnya kita sesali di kemudian hari.
Apa yang terjadi ketika kita dikuasai emosi?
Belajar biologi sebentar ya.. Otak manusia berdasarkan fungsinya bisa dibagi menjadi 3 bagian :


  1. Otak reptil. bagian otak paling primitif dan berfungsi untuk survival. Sistem kerjanya sangat reaktif dan tanpa pikir panjang
  2. Otak mamalia. mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan emosi. Bagian inilah yang mempengaruhi anda sehingga bisa merasa gembira, sedih, marah dll.
  3. Neocortex. bagian otak paling modern yang mengatur rasio dan logika. Proses pengambilan keputusan akan banyak melibatkan bagian ini.
Yang terjadi ketika kita dikuasai emosi sehingga tidak lagi bisa mengendalikan diri adalah sebuah kondisi yang disebut dengan “amygdala hijack“. Amgydala adalah bagian dari otak primitif (otak reptil) yang kemudian membajak neocortex anda. Ketika Anda dibajak, berarti anda kehilangan kendali. Bagian otak reptil-lah yang akhirnya mengambil alih kendali perkataan atau tindakan anda.
4 Langkah kilat untuk mengendalikan diri :

1. Akuilah perasaan kita, saya melakukan hal ini sebelum saya mengajak ngobrol serius suami saya. Saya berfikir sangat keras untuk mengutarakan hal ini atau tidak, tetapi jujur saya ingin mengakui perasaan saya dan ingin pasangan saya tau tentang perasaan saya terhadap suami saya. Hal ini disebut proses ber-empati pada diri sendiri, saya mengatakan kepada diri saya sendiri atas apa yang saya rasakan selama ini.

2. Aturlah nafas kita, dan berusaha relax. Hal ini saya lakukan disela-sela saya mengutarakan isi hati saya kepada suami saya. Dan saya melakukan hal ini lebih keras ketika giliran suami mengutarakan aliran rasanya setelah saya utarakan semua uneg-uneg saya. 

3. Ubah fisiologi kita, ini mengenai bahasa tubuh.. ada saat-saat saya tidak sanggup menatap matanya saya menghadap depan (karena saya duduk disamping suami), terkadang melihat salep yang saya pegang (kebetulan ada salep di dekat saya duduk, suami saya habis memakai salep pereda nyeri). Tubuh saya tegak duduk bersila tetapi condong ke suami agak miring. Saat sesi suami saya yang mengutarakan pendapatnya, sebagian besar saya melihat ke arah wajahnya. Saya melihat perubahan mimik wajah, garis senyum dan tatapan matanya. Selama ngobrol suami melihat kedepan terus, tidak menatap saya balik. Jadi lumayan ada yang ga jelas saya amati karena saya melihatnya dari samping wajah dia.

4. Mulailah berfikir apa yang bisa kita lakukan, setelah selesai suami berbicara saya tidak ingin menyangkal ataupun mencari pembenaran lagi. Semua sudah cukup saya terima, saya sudah mengeluarkan semua perasaan saya. Saya melanjutkan untuk meminta maaf (kita saling bermaaf-maafan), dan ijin untuk sholat. Disaat ini pikiran saya kembali jernih, dan saya berfikir apa saja yang akan saya lakukan kedepannya.

Demikian semoga bermanfaat, Alhamdulillah sudah berada di akhir tantangan game level 1 Komunikasi Produktif. Semoga bisa istiqomah memperbaiki komunikasi saya kedepannya, dan saya bangga kepada diri saya, suami saya, teman-teman yang saya ajak tantangan komunikasi produktif kemarin. Terima Kasih banyak!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Source :
Tim Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.



  • Share:

You Might Also Like

0 Comments