Komunikasi Produktif Dengan Pasangan

By i k k a r f - April 08, 2019


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Bismillah..

#Day 11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Alhamdulillah selesai sudah tugas wajibnya, menuliskan tantangan 10 hari. Mulai hari ke 11 ini sampai tanggal 14 april tugasnya jadi sunnah. Hihi! Langsung saja ya berikut adalah komunikasi saya dengan kang mas suami :
😊 : saya
😎 : suami

😎 : "dek, mas mau keluar dulu ya.. Mau potong rambut, ke rumah pak pri ngadep aja kan kemarin udah nggak masuk seminggu."
😊 : "mas beneran udah enakan? nggak pusing? nggak panas badannya?"
😎 : "udah enakan kok dari semalem, buktinya nyetir semalem keluar sama ibu udah nggak pusing lagi."
😊 : "ya udah boleh, tapi jangan sampai malem ya.. Inget, mas belum pulih betul lho. Harus masih banyak istirahat, masih masa pemulihan. Harusnya besok cek lab ulang lho, biar tau udah turun belum tipesnya, lever-nya.
😎 : "iyaaaa..."
___________________
Dini hari dia belum pulang, saya pun menelpon ternyata sudah di deket rumah. Saya redam emosi saya, memilih kata-kata yang baik dan intonasi yang tenang.
😊 : "kok baru pulang mas.. kan sudah dibilang mas masih belum sembuh betul, masih pemulihan.."
😎 : "iya tadi habis ke pak pri ke rumah ibu bantuin acara pengajian, terus ditelpon raya.. jadi aku ke rumah raya ngobrol-ngobrol. Badanku kok ga enak ya.. nggreges lagi."
😊 : speechless.. tanpa banyak kata-kata.. saya benar-benar ingin marah sejadi-jadinya tetapi saya tahan! Kadang hal yang seperti ini yang membuat jengkel dan lupa akan teori yang sudah dipelajari. Saya sebagai istrinya, "ngeman" dia biar ga sakit lagi apalagi jangan sampai ngamar di Rumah Sakit. Iya kemarin suami sakit dirawat sendiri di rumah, dan dia full istirahat di rumah selama seminggu. Saya tau dia bosan pengen keluar, tetapi omongan saya tidak dia dengar. 

Pernahkah senasib dengan saya?????
Kadang berfikir, mungkin begini juga ya rasanya kalau sudah punya anak. Omongan kita tidak didengarkan, padahal demi kebaikan dirinya sendiri. Ah! Jadi inget saya sebagai hamba Allah. Allah memberi peraturan ini itu demi kebaikan saya sebagai manusia, tapi saya banyak melanggar perintah Allah. Selfplak jadinya!

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini? 
1. Selesaikan emosi! Caranya?? Alihkan emosi negatif anda ke arah positif. Bisa dengan wudhu, bisa dengan membuka ANCHOR yang sudah saya tulis (saya bahas ini di tugas pertama T10 blog saya), atau hal-hal yang anda sukai.
2. Jika sudah agak tenang, clear and clarify ke suami dengan menggunakan kaidah 7-36-55, kontak mata, pilih waktu yang tepat atau bangun suasana yang nyaman agar suami akan mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada kita dengan satu syarat jangan menyalahkan apa-apa yang suami utarakan.
3. Terakhir terima apapun hasil dari komunikasi kalian (suami istri), selalu positif thinking terhadap apa yang dihasilkan dari komunikasi dengan suami. Jangan sampai terucap kata-kata penuh emosi dan negatif, karena bisa jadi kata-kata atau prasangka kita itu menjadi doa.

Jangan terlalu mengharapkan pasangan langsung berubah drastis seperti yang kita inginkan, tetapi selalu doakan pasangan kita untuk diberi pertolongan oleh Allah swt. Jika hal yang dilakukan pasangan kita salah, semoga Allah membimbingnya ke jalan yang benar. Jangan remehkan kekuatan doa! 

Demikian semoga bermanfaat, dan buang yang buruk dari saya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments