MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

By i k k a r f - Agustus 20, 2018


Bismillah NHW 3 kali ini membahas tentang membangung peradaban.

Sebelumnya mari kita mencari tau apa arti dari peradaban, peradaban menurut KBBI yaitu kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin atau hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa.
Peradaban menurut Albion Small yaitu kemampuan manusia di dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara itu, kebudayaan mengacu pada kemampuan manusia dalam mengendalikan alam dengan melalui ilmu pengetahuan serta teknologi. Menurutnya, peradaban berhubungan dengan adanya perbaikan yang bersifat kualitatif serta menyangkut kondisi batin manusia, sedangkan kebudayaan mengacu pada sesuatu yang bersifat material, faktual, relefan, serta konkret.

Setelah kita faham dengan peradaban, berikutnya kita belajar tentang potensi diri. Bagaimana untuk mengenali potensi diri?
Ada cara sederhana untuk menemukan kekuatan, bakat, potensi diri yang bisa menjadi penanda sebagai berikut :
1. Kita merasa senang saat melakukannya (enjoy), untuk menguji apakah kita sungguh menyukai aktivitas tersebut atau tidak, jawab pertanyaan ini dengan sejujurnya. "Apakah aku tetap akan melakukannya meskipun tidak seorangpun menghargai hasil karyaku?" Misalnya kita suka masak, selalu mengisi waktu dengan memasak, terus berlatih, tak perduli orang lain tak menyukainya.
2. Kita dapat melakukan sesuatu dengan mudah (easy). Ketika kita merasakan dapat menguasai keterampilan tersebut dengan mudah sementara orang lain dengan susah payah berusaha.
3. Bila kita merasa telah dapat mencapai hasil yang maksimum (excellent).
4. Menghasilkan pendapatan (earn).
Seseorang berhasil dalam memanfaatkan bakat, potensi, kekuatan bila memiliki ciri 4E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn).

Bagaimana cara mengkorelasi keduanya?
Ada quote yang saya suka dari Founder IIP bapak dodik mariyanto "bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu. Tidak ada hukum terbalik."
Hal ini menjadi kunci bahwa untuk membangun peradaban suatu negara dimulai dari membangun peradaban dari dalam rumah terlebih dahulu. Rumah kita adalah pondasi sebuah pembangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu peran suami sebagai partner harus seiring dan seirama, sehingga saya mengutarakan suara hati saya melalui surat cinta yang saya persembahkan kepada suami saya mengutarakan apa yang menjadikan saya memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak saya. Respon dari suami saya berkata "kesambet apa kamu dek?" hehehe. Kita berdua memang bukan pasangan romantis. Kebetulan setelah pemberian surat cinta itu suami ditugaskan keluar kota sampai weekend ini. Jadi belum ada hasil signifikan, entah nanti ya.. Tetapi saya merasa bahagia, karena selama 5 tahun menikah pasti ada selisih paham. Dengan menuliskan surat cinta ini, saya kembali mengingat hal-hal apa saja yang saya sukai dari suami. Ini membuat rasa cinta dalam rumah tangga semakin hangat. Mungkin bisa diaplikasikan lagi sekali-kali, hehe..

Mengapa saya dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang saya miliki?
Potensi yang saya miliki adalah saya suka berwirausaha, suka crafting dan sangat bahagia jika bermanfaat untuk orang lain. Dalam pencarian potensi saya, saya sempat egois hanya memikirkan diri saya sendiri akibat pelarian karena suami yang sibuk di luar rumah. Seiring berjalannya waktu, rumah tangga kami diuji dan saya kembali instropeksi diri saya kurang perhatian terhadap suami saya. Saya sangat senang mengikuti matrikulasi IIP ini membantu saya menemukan potensi yang sesungguhnya dalam diri saya dan menyeimbangkan peran menjadi wanita di ranah domestik dan di ranah publik lebih baik lagi. Ilmu crafting ini dapat menyulap barang bekas menjadi bermanfaat sehingga rumah terasa hommy dan nyaman sehingga bisa menghemat budget rumah tangga juga.

Tantangan apa saja yang ada didepan saya? apakah saya menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Tantangan yang ada di depan saya, saya ditakdirkan oleh Allah untuk merawat ibu saya yang sendirian. Dua tahun yang lalu ayah saya meninggal, suami mengajak saya untuk tinggal serumah dengan ibu kandung saya. Alhamdulillah suami saya mendukung apa saja yang saya lakukan asalkan saya ingat untuk selalu berbakti kepada orang tua dan suami. Jangan melupakan kodrat saya. Saya orang yang cuek dengan keluarga dan Allah memberikan suami yang mengajarkan saya untuk selalu peduli dan sayang kepada orang tua baik kandung maupun mertua. Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Dan semoga kedepannya saya bisa memberi tempat dan wadah untuk warga sekitar saya membagikan ilmu yang saya punya untuk menjadi manusia yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Amiin!


source :
https://www.sekolahpendidikan.com/2017/08/pengertian-peradaban-ciri-ciri-dan.html#
tim matrikulasi Institut Ibu Profesional batch 6 jatim selatan

 

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments